09
Oct

MENGGANTI SHALAT MALAM PADA WAKTU DHUHA


Dari Aisyah radhiyahu anha berkata:

((كَانَ رَسُول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا فَاتَتْهُ الصَّلاةُ مِنَ اللَّيلِ مِنْ وَجَعٍ أَوْ غَيرِهِ، صَلَّى مِنَ النَّهارِ ثنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً)). رواه مسلم .

“Adalah Rasulullah Shallallaahu Alaihi Wasallam ketika tidak sempat mengerjakan shalat malam karena sakit atau lainnya beliau mengerjakannya pada waktu siang sebenyak dua belas rakaat.” (Sahih Muslim)
=======

Pembaca bilyatimi yang dirahmati Allah ta’ala.

Hadis ini dimasukkan imam An-Nawawi dalam kitab “Riyadhus shalihin” dalam bab: Perintah untuk menjaga amal shalih.
Maksudnya: Kita sebagai seorang muslim jika sudah pernah mengerjakan suatu amal shalih, hendaknya melestarikan dan selalu mengerjakannya.

Barangsiapa siapa pernah bersedekah pada hari Jumat, hendaknya melestarikannya dan jangan berhenti pada kali yang pertama saja.
Barangsiapa bersedekah pada setiap harinya, hendaknya melestarikan dan berusaha selalu mengeluarkan sedekah, apa pun itu bentuknya, meski kondisinya lagi sempit misalnya.
Barangsiapa pernah mengerjakan dua rakaat sunnah setelah berwudhu, hendaknya melestarikan dan terus melakukannya, agar mendapatkan pahala seperti Bilal bin Rabah radhiyallahu anhu. Yang kedua terompahnya sudah di Surga padahal orangnya masih hidup di dunia.
Adapun Hadis di atas maka menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallaahu Alaihi Wasallam, tidak pernah meninggalkan shalat malam. Demikian itu karena shalat malam memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah ta’ala. Nabi Shallallaahu Alaihi Wasallam bersabda:
((وَأَفْضَلُ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَرِيضَةِ صَلاَةُ اللَّيْلِ))
“Shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam.” (Sahih Muslim, no. 2812)
Apalagi Allah ta’ala berfirman:
{وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا} [الإسراء: 79]
“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra’: 79)
Ketika suatu hari beliau tidak sempat mengerjakan shalat malam, apakah karena sakit atau kesibukan maka beliau menggantikannya dengan shalat dua belas rakaat pada waktu dhuha. Dan itu bukan shalat dhuha. Beliau mengerjakannya dua belas rakaat, karena shalat ganjil hanya terjadi pada waktu malam. Sedangkan shalat siang tidak boleh ganjil tapi harus genap.
Karena itu siapa pun dari kita, ketika lupa mengerjakan shalat malam karena suatu uzur, misalnya tiap malam tiga rakaat maka mengerjakannya pada waktu dhuha sebanyak empat rakaat.
Juga siapa pun dari kita biasa mengerjakan shalat rawatib dua belas rakaat, jika suatu ketika lupa dan hanya mengerjakan sepuluh rakaat, kemudian tiga hari kemudian teringat maka dianjurkan untuk mengganti dua rakaat yang kurang tersebut. Pada waktu teringat. Inilah maksud menjaga amal shalih.
Wallaahu a’lam.