18
Jun

HARAM DARI AMPUNAN DAN TAUBATNYA TERHALANG

Pembaca bilyatimi yang dirahmati Allah!
Ramadhan bulan ampunan. Pada tiap malam dari bulan ini Allah memerdekakan banyak hambaNya dari Neraka. Tapi Rasulullah  memperingatkan kita jangan sampai termasuk kelompok yang diharamkan dari kesuksesan besar itu. Beliau bersabda:
((وَرَغِمَأَنْفُرَجُلٍدَخَلَعَلَيْهِرَمَضَانُثُمَّانْسَلَخَقَبْلَأَنْيُغْفَرَلَهُ))
“Sungguh celaka seseorang, Ramadhan masuk padanya kemudian pergi, tapi ia tidak juga diampuni.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 3545)
Siapakah orang-orang yang diharamkan dari ampunan itu?
Pertama kaliadalah para pelaku kesyirikan dengan berbagai bentuknya. Allah  menegaskan:
{إِنَّاللَّهَلَايَغْفِرُأَنْيُشْرَكَبِهِوَيَغْفِرُمَادُونَذَلِكَلِمَنْيَشَاءُ } [النساء: 48]
“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik. Dan mengampuni dosa-dosa selain syirik bagi siapa pun yang dikehendakiNya.” (QS. An-Nisa’: 48)
Ini adalah pernyataan tegas bahwa para pelaku kesyirikan tidak akan diampuni hingga meninggalkannya. Karena besarnya bahaya syirik, Allah  menjadikan pembahasan tauhid dan kesyirikan sebagai pembahasan inti dalam kitab suciNya. Dosa syirik sama sekali tidak bisa ditawar-tawar.
{إِنَّهُمَنْيُشْرِكْبِاللَّهِفَقَدْحَرَّمَاللَّهُعَلَيْهِالْجَنَّةَوَمَأْوَاهُالنَّارُ} [المائدة: 72]
“Sesungguhnya siapa pun berbuat syirik kepada Allah, niscaya Allah mengharamkan Surga atasnya dan tempat kembalinya adalah Neraka.” (Al-Maidah: 72)
Yang kedua: Adalah siapa pun yang terus menerus mengerjakan maksiat. Di antara sifat orang-orang yang dijanjikan akan mendapat ampunan adalah:
{وَلَمْيُصِرُّواعَلَىمَافَعَلُواوَهُمْيَعْلَمُونَ} [آلعمران: 135]
“Mereka tidak terus-terusan mengerjakan dosa ketika mengetahuinya.” (QS. Ali Imran: 135)
Taubat memiliki tiga syarat, jika salah satunya tidak terpenuhi, niscaya taubat tidak sah. Yaitu: Menyesal atas kemaksiatannya, meninggalkan maksiat, dan bertekad untuk tidak mengulang kembali. Jika dosanya berkaitan dengan hak manusia, harus ditambahkan syarat keempat, yaitu meminta kehalalan dari hamba tersebut.
Ada beberapa penghalang yang menjadikan seseorang sangat sulit bertaubat. Misalnya orang sombong. Karena menganggap dirinya orang suci, senantiasa berada dalam kebaikan, lebih baik dari yang lain, maka tidak akan mengakui kesalahannya dan tidak akan meninggalkan perbuatannya. Allah  berfirman:
{وَإِذَاقِيلَلَهُاتَّقِاللَّهَأَخَذَتْهُالْعِزَّةُبِالْإِثْمِفَحَسْبُهُجَهَنَّمُوَلَبِئْسَالْمِهَادُ} [البقرة: 206]
“Apabila dikatakan kepadanya: ‘Takutlah kepada Allah’. Bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah Neraka Jahannam sebagai balasannya. Sungguh Neraka Jahannam tempat tinggal yang seburuk-buruknya.” (QS. Al-Baqarah: 206)
Juga perkara yang menjadikan taubat mustahil dilakukan seseorang, ketika dia jahil terhadap kebenaran dan kesalahan. Ia tidak bisa membedakan di antara keduanya. Yang salah dianggapnya benar. Dan yang benar dianggapnya salah.
Penyakit ini menimpa banyak sekali kaum muslimin zaman ini karena jauhnya mereka dari ilmu yang benar dan petunjuk yang sahih. Mereka menganggap yang ma’ruf adalah munkar dan yang munkar adalah ma’ruf. Menganggap yang bid’ah adalah sunnah dan yang sunnah adalah bid’ah. Tentang mereka ini Allah  berfirman:
{ قُلْهَلْنُنَبِّئُكُمْبِالْأَخْسَرِينَأَعْمَالًا©الَّذِينَضَلَّسَعْيُهُمْفِيالْحَيَاةِالدُّنْيَاوَهُمْيَحْسَبُونَأَنَّهُمْيُحْسِنُونَصُنْعًا } [الكهف: 103، 104]
“Katakanlah: ‘Maukah Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang paling merugi perbuatannya?’ Yaitu mereka yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka telah berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi: 103-104)
Juga perkara yang menjadikan taubat mustahil terwujud, adalah mengikuti hawa nafsu. Terkadang seseorang bisa membedakan antara yang haq dengan batil secara jelas. Tapi hawa nafsu menguasainya sehingga ia pun mengutamakan nafsu atas kebenaran. Tidakkah Anda melihat kepada para perokok. Mereka membaca jelas pada bungkus rokok bahwa “Merokok adalah membunuhmu.” Mereka tahu itu adalah kebenaran. Namun mereka terus saja merokok, karena sudah dikuasai hawa nafsu, sehingga kebenaran menjadi kabur sama sekali. Semoga Allah melindungi kita semua dari perkara-perkara di atas.
Wallaahu a’lam Bishshawab.