Meralat Shalat Kilat

Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag  Guru Besar UIN Sunan Ampel Sby & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

“Sungguh, orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka, dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud mencari pujian (dengan shalat) di hadapan manusia, dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.”
(QS. An-Nisa [4]:142).

Ayat di atas merupakan kelanjutan ayat-ayat sebelumnya tentang sifat orang-orang munafik. Berdasar ayat di atas, orang yang shalat lima waktu dan berdzikir kepada Allah tetap berstatus munafik jika shalat dikerjakan secepat kilat karena sedikit mengingat Allah di dalamnya, dan dilaksanakan dengan bermalasan. Oleh sebab itu, jangan cepat tersinggung, ketika teman memanggil Anda orang munafik, jika Anda memang pelaku shalat yang demikian.

Allah SWT berfirman, “Sungguh, orang-orang munafik menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka…”Jika Anda menipu teman, seratus kalipun, bisa saja ia tetap percaya kepada Anda, sebab Anda ahli bahasa dan retorika.

Sesuatu yang busuk bisa Anda bungkus dengan bahasa yang indah dan menarik, sehingga tercium harum. Apalagi Anda baru saja lulus dari kursus drama dengan olah vokal dan olah visual. Mimik muka dan isyarat tubuh Anda benar-benar membius pendengar. Racun yang Anda berikan, dijadikan rebutan karena terasa madu. Untuk lebih meyakinkan, orang munafik sudah terbiasa bersumpah atas nama Allah atau menggunakan bahasa-bahasa agama untuk kepentingan pribadinya. Allah SWT berfirman, “Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras.” (QS Al Baqarah [2]: 204). Tapi sehebat bagaimanapun Anda, tidak akan bisa menipu Allah SWT.

Jika Anda bertakbir, tapi Anda belum yakin atau masih ragu akan kebesaran dan kekuasaan Allah untuk menyelesaikan masalah Anda, maka takbir Anda adalah takbir kebohongan. Anda telah melalukan tipuan pertama. Jika Anda membungkukkan badan untuk rukuk, tapi hati tidak menunduk, maka Anda menipu Allah untuk kedua kalinya. Benar, Anda telah bersujud di atas sajadah, tapi jika tetap angkuh dan tidak merendah, maka Anda menipu Allah yang ketiga kalinya. Dengan rukuk dan sujud yang benar, Anda pasti lebih santun dalam pergaulan, karena tidak ada lagi perasaan dirinya lebih suci, lebih penting atau lebih terhormat daripada orang lain. Memandang diri Anda lebih mulia, dan orang lain lebih rendah yang membutuhkan Anda, pasti melahirkan ekspresi, sikap dan tindakan yang tidak menyenangkan orang.

Ketika punggung dan leher dibungkukkan secara lurus, seorang muslim menyatakan hormat terhadap perintah dan kebesaran Allah. Dengan sikap itu, ia menunjukan kesediaannya untuk dipenggal lehernya di jalan Allah. (Qira’ati, 2001:133). Dengan demikian, setiap shalat, orang mukmin menyatakan siap mati pada jam itu. Hanya sedikit orang yang mau menyatakan demikian, padahal salah satu sumber kecemasan hidup adalah perasaan takut mati. Jika Anda bersedia menyatakan kesiapan mati setiap shalat, Anda telah berhasil menutup seribu pintu stress. Perlu dicamkan, bahwa ketidaksiapan orang terhadap kematian tidak akan merubah jadual kematian. Demikian juga, kesiapan orang untuk mati ketika shalat juga sama sekali tidak mempercepat kematian. Mengapa tidak siap mati setiap rukuk? Jika Anda menyerahkan kepala untuk dipenggal Allah, tapi menghindar untuk dieksekusi, berarti Anda melakukan rukuk kebohongan.

Sujud merupakan tanda ketundukan fisik dan hati serta perendahan diri secara total di hadapan Allah SWT. Kadangkala Nabi SAW tidak segan sujud tanpa alas di atas tanah yang berair atau berlumpur untuk menunjukkan betapa rendah dan hina dirinya di hadapan Allah. Atha’ Al Kharasani berkata, “Ketika seorang hamba bersujud di atas tanah, maka pada hari kiamat kelak tanah itu akan menjadi saksi untuknya dan meratapinya saat dia meninggal dunia”.

Agar Anda tidak termasuk orang munafik, maka hindari shalat bermalasan berupa menunda-nunda waktu shalat, atau melakukannya dengan gerakan yang tidak sempurna karena tidak bersemangat. Juga hindari sifat munafik yaitu shalat kilat. Kerjakan dengan lebih lama, syukur-syukur masing-masing ruku dan sujud kira-kira tiga puluh detik agar tidak termasuk firman Allah, “….dan tidak mengingat Allah kecuali sedikit..”. Kerjakan shalat demikian, ketika sendirian atau dilihat orang. Nabi SAW bersabda, “Barangsiapa mempercantik shalat ketika dilihat orang, tapi shalatnya jelek ketika sendirian di tempat sunyi, maka itulah pelecehan (istihanah) yang dilakukan kepada Allah Yang Maha Mulia (‘Azza wajalla).” HR Al Hafidh dari Abdullah.

Khusus tentang fungsi sujud, Rabi’ah bin Ka’ab r.a bercerita, “Suatu hari, Rasulullah SAW berpesan pada saya, ”Wahai Rabi’ah, tujuh tahun engkau telah mengabdi kepadaku. Adakah permintaanmu?. Aku akan memenuhinya”. Saya menjawab, ”Wahai Rasulullah, berikan aku waktu untuk berfikir”. Pada hari berikutnya, Nabi SAW bersabda, ”Wahai Rabi’ah, katakan apa keinginanmu!” Saya menjawab, ”Mohonkan kepada Allah agar Dia memasukkan aku ke surga bersamamu”. Mendengar permintaan saya, Nabi SAW langsung bertanya, ”Siapa yang mengajari permintaan itu?” Saya menjawab, ”Tidak ada seorangpun yang mengajari saya. Semata-mata hasil pikiran sendiri. Jika saya meminta banyak harta, semuanya akan musnah. Jika mengharap panjang umur dan banyak anak, akhirnya semua akan mati.

Dengan tafakkur inilah, saya menyampaikan permohonan tersebut”. Setelah beberapa saat, Nabi SAW menundukkan kepala, lalu mengangkatnya kembali dan bersabda, ”Aku akan memohon kepada Allah agar mengabulkan permohonanmu, tetapi bantulah aku dengan banyak sujud.”

Rasulullah SAW telah mengajarkan berlama-lama sujud, sebab itulah posisi terdekat antara manusia dan Allah. Jika Anda berdoa di depan ka’bah di Makkah atau di Raudlah di Madinah, doa Anda akan dikabulkan karena kemuliaan dua tempat itu. Akan jauh lebih hebat, jika Anda berdoa ketika bersujud, karena kemuliaan itu ada dalam diri Anda sendiri. Bersujudlah lebih lama, Anda telah melumpuhkan setan penggoda, wajah Anda semakin bersinar di akhirat kelak, sehingga memudahkan Nabi SAW untuk mengenali Anda sebagai pengikutnya, doa Anda dikabulkan Allah, dan Anda terjauh dari sifat munafik, karena Anda melawan kemalasan, memperpanjang dzikir, dan bertauhid: hanya bersujud kepada Allah. Selamat meralat shalat kilat. (wallahu a’lamu bis shawab)

 

Gambar: shalat-subuh-kesiangan-ilustrasi-_120509214635-600-300×178

Leave a Reply