Meraih Islam Yang Sempurna

Oleh: Hamdani, M.A Dosen IAI (Institut Agama Islam) Ngawi, Ketua Himmatun Ayat Cabang Ngawi

Islam diturunkan oleh Allah kepada Rasulullah SAW semata-mata untuk mewujudkan kedamaian, keseraisan dan menjunjung tinggi sifat jujur dan berbudi pekerti yang baik. Hal ini dijelaskan dalam hadist Nabi SAW “ Ada empat hal, apabila seseorang mampu melakukan dalam kehidupan, meskipun orang tersebut masih mempunyai dosa dikakinya. Pertama jujur, Syukur, Malu dan berahlak mulia.

Sifat tersebut semuanya ada pada dirinya manusia, manakala orang tersebut menjalankan dan menjaganya dengan baik, niscaya Allah akan memasukan dia kedalam Surga-Nya Allah. Sebuah kisah diceritakan, Ja’far At-Thayyar terbunuh dalam sebuah peperangan, namun jazatnya dikelilingi oleh Malaikat. Bahkan, Malaikat Jibrilpun ikut menyangsikan jazadnya Ja’far yang oleh Allah telah dijamin masuk Surga. Kemudian Nabi n mendengar tentang kematian sosok Ja’far At-Thayyar yang jazatnya disaksikan oleh Malaikat.

Nabi SAW Pun bertanya kepada Malaikat Jibril tentang sosok Ja’far” Apa perbuatan yang menyebabkan Ja’far dimasukan surge oleh Allah. Jibril menjawab “Ja’far selama hidupnya tidak pernah melakukan tiga hal, yakni tidak menyekutukan Allah, kedua tidak pernah berbohong, tidak pernah berzina atau mabok,” jawab Jibril.

Kemudian Rasulullah SAW berkata” jika umat islam ingin sempurna iman dan islamnya, maka jah perkara itu bohong, zina dan kafir. Karena perbuatan itu sangat dibenci Allah. Apa yang menimpa Ja’far merupakan contoh nyata bagi kita bahwa perbuatan bohong atau munafik adalah termasuk pebuatan tercela yang bias menghilang kesempurnaan iman dan islam. Karena itu, jujur dan terpercaya merupakan sifat yang sangat sulit dilaksanakan, namun harus dicoba terus-menerus agar menjadi kebiasaan, sehingga kita menjadi manusia yang meraih kesempurnaan dalam islam.

Pada pasa khalifah Umar Bin Khattab pernah terjadi peristiwa besar dimana Umar mendapati seorang wanita yang berstatus Janda sedang membungkus susu kambing untuk dijual keesokan harinya. Wanita tersebut berusaha keras untuk berdagang untuk membiayai hidup anak perempuannya yang dikenal jujur dan disiplin.

Pada suatu hari, Umar mendengar dari para sahabat tentang sosok wanita dan anak perempuannya yang jujur berdagang susu kambing untuk membiayai kehidupan. Umarpun lantas menyelidiki rumah wanita tersebut seorang diri. Setelah sampai ke rumah wanita, Umar tidak langsung masuk, namun Umar mendengarkan percakapan antara seorang ibu dan anak gadisnya”
“ Khalifah melarang keras semua penjualan susu yang dicampur dengan air,”terang gadis tersebut. Sang ibu bergumam, Kenapa engkau dengar sang khalifah itu?” jawab sang ibu. “Tidak bu, meski kita bersumbunyi, namun Allah maha mentehuai apa yang kita perbuat,” tegas anak perempuan. Sang ibu, kembali terdiam. “engkau benar anakku,” semoga sang khalifah mendengar apa yang engka katakana? Jawab ibu.

Mendengar pembicaraan kedua orang tersebut, Khalifah Umar Bin Khattab langsung pulang ke rumah dan menemui anaknya Ashim bin Umar. Sang Khalifah berkata, Wahai Ashim, engkau saya utus untuk menikahi seorang gadis yang jujur pada zaman Khalifah. Dimana gadis tersebut tinggal disebuah gubuk bersama ibunya yang bekerja sebagai penjual susu kambing.

Ashimpun menyetujui permintaan Umar, dan keesokan harinya Ashim melamar gadis tersebut sembari bahagia. Karena, ashim mengetahui bahwa gadis tersebut ternyata wanita yang berimam dan berprilaku baik serta jujur. Allah mempertemuakan kedua dalam sebuah pernikahan yang diridhai Allah dan disaksikan oleh Khalifah Umar yang dikenal sangat bijaksana.

Dalam surat Al-An’am :125” Barangsiapa yang allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya dia melapangkan dadanya untuk memeluk agama Islam. Dan barang siapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki kelangit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.”.
Dari ayat di atas menjelaskan kepada kita bahwa, hidayah Allah tidak membeda-bedakan jenis kelamin dan pangkat atau jabatan, Allah menurunkan hidayah kepada orang yang telah dipilih untuk kesempurnaan iman dan islam. Termasuk dalam kisah seorang wanita janda dan anak gadisnya yang setiap hari menjaul susu, kemudian di mendapatkan hidayah dan tetap setia dan mengabdi kepada Allah.

Gambar: http://scalar.usc.edu/works/
research-for-future/islamic-wallpaper

Leave a Reply