SUMBER HARTA YATIM

Oleh: Budi Hartoyo (Ketua Yayasan Himmatun Ayat)

Pada dasarnya mengurus anak yatim merupakan kewajiban bagi setiap orang yang paling dekat dengannya. Akan tetapi, apabila orang yang paling dekat belum mengurusnya, maka (yang lain) yang juga dekat dengan anak yatim itu berhak untuk ikut campur memperbaiki keadaannya. Karena mengurus anak yatim merupakan fardhu kifayah atas umat Islam. Sebagai makhluk sosial manusia diciptakan oleh Allah SWT adalah saling membutuhka, tidak mungkin manusia bisa hidup sendiri tanpa bantuan yang lain. Untuk melengkapi kebutuhan hidupnya mereka harus saling menolong dan saling membantu sesama. Termasuk kepada anak yatim , terlebih yang kurang mampu dan telah ditinggalkan kedua orang tuanya. Mereka harus berusaha memenuhi kebutuhan untuk mempertahankan hidup.

Dalam rangka memenuhi berbagai kebutuhan itu tentunya diperlukan harta atau dana agar pemeliharaan dapat berjalan optimal. Al-quran sebagai kitab yang sempurna telah memberikan solusi berbagai permasalahan kehidupan, termasuk dari mana harta untuk pemeliharaan anak yatim ini didapatkan. Secara umum Alloh memerintahkan manusia agar berinfaq dan bersedekah dengan harta terbaik yang dimilikinya. Sebagaimana yang dijelaskan dalam surat al-Baqarah : 267. Artinya : Hai orang-oarng yang beriman, nafkahkanlah (dijalan Allah) sebagian dari hasil usahamu yang baik-baik dan sebagian dari apa yang kami keluarkan dari bumi untuk kamu. Dan janganlah kamu memilih yang buruk lalu kamu menafkahkan dari padanya. Padahala kamu sendiri tidak mau mengambilnya melainkan dengan memejamkan mata terhadapnya. Dan ketahuilah , bahwa Allah maha kaya lagi maha terpuji. Selain ayat-ayat yang bersifat umum , Alloh juga menjelaskan secara khusus dari mana sumber dana yang bisa diterima oleh anak yatim antara lain : Fa-i, Ghanimah,waris.

Pertama tentang Fa-i. Fa-i’ berasal dari Fa-a yafiu yang berarti harta yang diambil oleh orang-orang Islam dari musuh-mushnya dengan tanpa perang. Dan menurut al-Zuhaili Fa-i adalah harta yang diambil dari orang Islam dan orang kafir dengan tanpa peperangan. Dan menurut imam asy Syafi’i, Fa-i adalah harta yang diambil oleh orang-orang Islam dan orang-orang kafir dengan tanpa peperangan, seperti jizyah, harta orang kafir yang meninggal dunia dikampung orang Islam dan tidak mempunyai ahli waris. Sehingga dapat dikatakan bahwa dalam istilah fiqih fa-i adalah harta yang diambil oleh orang-orang Islam dari musuh-musuhnya (orang-orang kafir) dengan tanpa terjadi suatu peperangan (dengan damai).

Untuk pembagian Fa-i, anak yatim jelas mendapatkan porsi prioritas sebagai disebut al-Qur’an dalam surat al-Hasyr : 7. Artinya : Apa saja harta rampasan (Fa-i) yang diberikan Allah kepada Rasulnya yang berasal dari pendudukan negeri maka adalah untuk Allah : Rasulnya, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, dan orang-orang yang dalam perjalanan, supaya harta itu jangan hanya beredar diantara orang-orang kaya saja diantara kamu.Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah, apa yang dilarangnya maka tinggalkanlah.Dan bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah maha sangat keras hukumannya.

Mengenai pembagian fa-i baik berasal dari jizyah, harta orang murtad,orang muslim yang tidak mempunyai ahli waris, seperlima dari harta ini dibagi menjadi lima bagian, diantaranya :
1. Untuk Allah dan Rasulnya, yaitu untuk maslahah (kepentingan) orang Islam, seperti pembangunan masjid, jembatan dan menggaji para hakim.
2. Untuk kerabat dekat Rasulullah seperti bani Hasyim, Bani Muthalib saja, tidak untuk lainnya.
3. Untuk anak-anak yatim yang ditinggal mati bapaknya, yang masih kecil dan tidak mempunyai harta.
4. Untuk orang-orang miskin
5. Untuk Ibnu Sabil yaitu orang-orang yang dalam perjalanan mencari ilmu dan membutuhkan biaya hidup.

Walaupun pembagian Fa-i dalam al-Qur’an disebutkan dengan terperinci orang-orang yang menerimanya, namun pada hakikatnya pada waktu itu Rasulullah yang memegang penuh seluruh Fa-i dan pembagiannya, atau bahwa negaralah yang berhak untuk membagi dan memegang sesuai dengan kebutuhan dan kemaslahatan umat. Dengan maksud untuk menghilangkan diskriminasi dan menjaga persamaan,persatuan dan persaudaraan umat Islam. Seperti dijelaskan oleh Rasulullah :artinya Saya tidak memiliki Fa-i yang diberikan Allah kepadamu kecuali seperlima, dan seperlima kembali kepadamu. Begitu juga Abu Bakar ash shiddiq ia membagi Fa-i kepada orang-orang yang bebas dan para budak, sesuai dengan kebutuhan mereka.Dan walaupun demikian bebasnya pembagian Fa-i, namun urutan orang-orang yang berhak menerimanya tidak boleh ditinggalkan (termasuk anak yatim), karena ayat tersebut merupakan peringatan, bahwa orang-orang tersebutlah yang berhak menerimanya dan harus diprioritaskan untuk penerimaannya.

Kedua , sumber dana yatim dari harta ghanimah. Beda antara fa-i dan ghanimah menurut as-Syafi’i adalah kalau ghanimah sesuatu yang diambil secara sengaja dari orang-orang kafir dengan peperangan,sedangkan fay’ sesuatu yang diambil dari orang-orang kafir dengan damai, seperti pajak, jizyah atau pajak tanah. Dari ghanimah, anak yatim juga mendapatkan hak untuk menerimanya, seperti dalam Al-Qur’an surat al-anfal: 41.Artinya: Ketahuilah, sesungguhnya apa saja yang dapat kamu peroleh sebgai rampasan perang (ghanimah ), maka sesungguhnya seperlima untuk Allah, Rasul, kerabat Rasul, anak yatim, orang-orang miskin, ibn sabil. Jika kamu beriman kepada Allah dan kepada apa yang kami turunkan kepada hamba kami (muhammad) pada hari furqan; yaitu dihari bertemunya dua pasukan. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Dari pembagiannya anak yatim mendapatkan seperlimanya, sebab ia termasuk enam nama yang disebut Allah dalam ayat tersebut. Menurut Abu Hanifah bahwa seperlima itu dibagi menjadi tiga golongan yaitu anak-anak yatim , orang-orang miskin, dan ibn sabil, sebab mereka mendapat prioritas utama dalam penerimaan ghanimah setelah wafatnya Rasulullah. Sedangkan anak yatim yang berhak menerimanya adalah anak yatim yang masih kecil dan lemah dan belum dewasa. Disebutkanya anak yatim dengan maksud, anak yatim yang tidak mempunyai harta, dan sama dengan orang miskin dan ibn sabil, mereka mendapatkan urutan setelah Allah dan Rasul-Nya . Dan Rasulullah ketika itu pernah membagikan bagiannya kepada umat Islam atau menginfakkan kepada siapa saja yang di kehendaki: demi untuk kepentingan umat Islam, setelah memberikan infaq kepada keluarganya.

Oleh sebab itu, perhatian Allah terhadap anak yatim begitu besar, dengan diberikannya hak penerimaan rampasan baik Fa-i maupun ghanimah yaitu sejumlah seperlima dari seperlima tersebut. Namun dari ayat tersebut kita bisa mengambil hikmah, bahwa perhatian terhadap kebutuhan mereka haruslah diperlihatkan oleh para penguasa agar mereka mendapatkan hak hidup dan kehidupan yang baik. Dan mampu menjalani hidup dan kehidupan yang baik. Dan mampu menjalani hidup dan kehidupan ini seperti layaknya anak-anak yang lainnya.

Ketiga, sumber harta anak yatim dari hasil pembagian warisan (meskipun bukan keluarga dari si yatim). Hal ini sebagaimana petunjuk dalam surat An-Nisa’:8 agar orang yang sedang membagi warisan memberikan sebagiannya kepada kerabat, anak yatim dan orang miskin. Ayat tersebut adalah: artinya “ Dan apabila sewaktu pembagian harta itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin , maka berilah mereka dari harta itu sekedarnya dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.” Menurut Sayyid Qutb, bahwa ayat tersebut bermakna apabila ada pembagian warisan , disarankan untuk memberikan sedikit dari bagian itu kepada kerabat dekat yang tidak mendapatkan bagian, anak yatim dan fakir miskin. Selain sumber dana tersebut , seharusnya pemerintah sebagaimana amanat UUD 1945 pasal 34 ; “Fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh Negara” juga turut serta memberikan pendanaan kepada anak yatim. Diantara program pemerintah dalam garis-garis Besar Haluan negara dicantumkan Bahwa : “ Pemeliharaan dan penyantunan sosial bagi orang-orang lanjut usia yang tidak mampu, fakir miskin, anak-anak terlantar, yaitu anak yatim piatu , dan rehabilitasi sosial bagi orang tersesat dilaksanakan dengan berkerjasama dengan masyarakat dan lembaga-lembaga sosial.” Dalam konsep hkum Islam al-Qurtubi dengan tegas mewajibkan para penguasa untuk membberikan nafaqah kepada anak yatim yang tidak mempunyai harta benda, yang diambilkan dari bayt al-mal (uang negara).
Namun faktanya anggaran dari pemerintah untuk lembaga social ini dari waktu ke waktu semakin merosot. Sebagai contoh jika 2 tahun yang lalu Himmatun Ayat dapat 40 juta selama setahun, tahun lalu menurun tinggal 20 juta dan tahun ini belum ada kabar. Hal ini juga dialami panti-panti yang lain, bahkan sebagian besar 2 tahun terakhir sudah tidak menerima bantuan sama sekali. Jumlah itu tentu belum sebanding dengan kebutuhan Himmatun ayat yang setidaknya dalam satu tahun perlu 5 Milyar untuk pembinaan 1797 anak yang tersebar diberbagai daerah. Ini belum termasuk kebutuhan yang sifatnya program tambahan dan insidentil. Sebagai salah satu koordinator forum LKSA (lembaga kesejahteraan social anak) di Indonesia, Himmatun ayat paham betul kondisi anggaran kemensos harus dibagi keberbagai pos bantuan kemanusiaan.

Karena itu satu-satunya moment terbaik bagi lembaga social adalah bulan Ramadhan sebagaimana yang kita jalani saat ini. Di bulan Ramadhan seperti inilah lembaga social harus bekerja lebih ekstra untuk menutup kekurangan anggaran panti diluar ramadhan. Dengan demikian sinergi dan partisipasi masyarakat senantiasa kami harapkan agar program-program lembaga yatim dapat berjalan lancer. Akhirnya selamat menjalankan ibadah ramadhan, mari kita raih kemenangan ! Alloohu akbar , walillaahilhamd !

Gambar: https://khazanahalquran.com/keberkahan-yang-luar-biasa-dari-harta-rasulullah-saw.html

Leave a Reply