RAMADHAN SEBAGAI BULAN PENDIDIKAN UMAT

Oleh : Yusuf Arisandi, M.Pd.I (Dosen Intensif Bahasa Arab UIN Sunan Ampel Surabaya
dan Dosen di Institut Agama Islam Darullughoh-Wadda’wah Bangil-Pasuruan)

Ramadhan disebut sebagai bulan pendidikan bagi umat Islam, karena di dalamnya terdapat nilai-nilai yang dapat membentuk karakter setiap muslim yang menjalankannya, yang tidak dijumpai di bulan-bulan lainnya. Nilai pendidikan karakter yang dimaksud adalah sebagai berikut

1. Taqwa.
Taqwa adalah menjalankan semua yang Allah perintahkan dan menjauhi segala yang dilarang-Nya. Ramadhan yang di dalamnya ada kewajiban puasa mempunyai tujuan utama, yaitu untuk membentuk pribadi yang bertaqwa. Sebagaimana Firman-Nya dalam QS. Al-Baqarah : 183 yang berbunyi : “ Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. ”

2. Sosial
Ramadhan adalah momentum yang pas untuk melakukan banyak shodaqoh. Ada fenomena unik yang kita temukan di bulan Ramadhan dan mungkin tidak di bulan-bulannya, yaitu masyarakat kelas menengah ke atas seakan-akan berlomba-lomba untuk melampiaskan jiwa sosial mereka dalam bentuk ikut andil dalam menyediakan buka puasa di masjid-masjid atau musholla-musholla. Bahkan sebagian besar dari instansi-instansi, pabrik-pabrik atau lembaga-lembaga sosial lainnya yang ingin melakukan kunjungan ke yatim-piatu untuk sekedar memberikan santunan dan buka puasa bersama mereka. Hal ini bisa kita lihat dari padatnya jadwal panti asuhan yang menerima kunjungan dari berbagai macam pihak, baik personal maupun instansi untuk melakukan buka puasa dan santunan di tempat mereka. Selain itu, menjelang berakhirnya bulan Ramadhan banyak panitia zakat fitrah dari musholla atau masjid yang siap membagikan beras ke faqir miskin. Ini menunjukkkan bahwa jiwa sosial masyarakat di bulan Ramadhan terbangun secara masif.

3. Kesederhanaan
Sederhana itu tidak identik dengan hidup susah dan penuh penderitaan. Namun sederhana itu persoalan memilih dan memilah antara kebutuhan dan keinginan. Kecerdasan dalam memilih antara kebutuhan dan keinginan ini penting karena banyak orang yang tergelincir dalam keserakahan yang membutakan. Mereka lebih memprioritaskan keinginan dari pada kebutuhan. Akibatnya, mereka boros dalam membelanjakan hartanya dan ini sangat dilarang dalam Islam. Sebagaimana Firman-Nya dalam QS. Al-Israa : 26-27 yang berbunyi :
“ Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. ”
Membiasakan pola hidup sederhana itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh latihan secara kontinyu untuk menghadirkan nilai ini. Apalagi di bulan Ramadhan ini, banyak godaan dari luar yang menuntut kita untuk berhambur-hamburan harta, khususnya ketika menjelang Idul Fithri. Pasar, Mall menjadi tempat yang istimewa dari pada masjid. Mereka lebih memilih berburu pakaian dari pada sholat tarawih dan i’tikaf di masjid. Hadirnya bulan Ramadhan ini diharapkan mampu untuk menjadi pribadi yang sederhana.

4. Kejujuran
Selama sebulan penuh kita berpuasa, selama itu pula kita terkarantina untuk bersikap jujur. Bisa saja kita sembunyi-sembunyi makan – minum di siang hari tanpa ada satupun orang yang tahu, namun sering kali kita tidak melakukannya karena kita tahu bahwa Allah SWT selalu mengawasi kita. Itu kalau iman kita masih kuat. Kalau tidak kuat, pasti kita melakukannya dan bersikap tidak jujur. Jika ini yang terjadi, maka sungguh puasa kita tidak berarti apa-apa. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW : “ Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh dengan puasanya.” (HR. Al Bukhari).

5. Kesabaran
Menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa lainnya mulai dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari adalah hal yang berat. Oleh karena itu, perlu kesabaran yang tinggi dalam menjalankannya, apalagi selama sebulan penuh. Sabar menurut Ali bin Abi Thalib ra ada 3, yaitu sabar dalam ketaatan, sabar dari kemaksiatan dan sabar terhadap musibah. Selama menjalankan puasa, terkadang ada saja hal-hal yang membuat kita marah. Apabila kita mampu bersabar terhadapnya, maka kita termasuk orang yang kuat. Sebagaimana Sabda Rasulullah SAW yang berbunyi : “ Orang yang kuat bukannlah orang yang kuat mengalahkan lawannya, tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu menguasai dirinya ketika sedang marah” (Muttafaq `alaih). ”

6. Kedisiplinan
Satu hal lagi nilai pendidikan karakter yang tidak kalah pentingnya dalam bulan Ramadhan, yaitu disiplin. Sebagaimana defini puasa di atas, ada masanya kita harus sahur dan buka sesuai dengan waktu yang ditentukan, tidak boleh dimajukan ataupun dimundurkan. Berikut adalah ilustrasi waktu puasa yang termaktub dalam al-Qur’an “Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai datang malam”. (QS. al-Baqarah:187). Ayat ini mengajari kita untuk disiplin dalam penyelenggaraan ibadah puasa. Walaupun secara detailnya ada dalam pembahasan khusus fiqh al-shiyam.

Itulah 6 nilai pendidikan karakter yang ada di bulan Ramadhan, semoga kita mampu menjalankan ibadah di bulan ini dengan baik dan semoga 6 nilai di atas mampu kita internalisasikan dalam diri kita. Aamiin

Leave a Reply