POTRET PENDIDIKAN ANAK YATIM DI MALAYSIA

Oleh: Budi Hartoyo (Ketua Yayasan Himmatun Ayat)

Akhir bulan Maret hingga awal bulan April 2018 kemarin rombongan YAWATIM (Yayasan Wakaf Pendidikan Anak Yatim & Miskin) mengadakan kunjungan ke Malaysia. Agenda utamanya adalah memenuhi undangan PEYATIM (Pertubuhan Kebajikan Anak Yatim Malaysia) untuk memperkuat motivasi sekaligus melihat langsung langkah nyata Malaysia yang telah berhasil mewujudkan kampus anak yatim. Agenda kedua adalah dalam rangka memberikan apresiasi keluarga H. Hasymi Majidi yang telah memberikan contoh pengorbanan dengan memberikan Hibah lahan 100 Hektar untuk rencana pendirian universitas yatim di Riau. Atas pengorbanan ini sesuai adat Melayu, H. Hasymi mendapat gelar penghormatan secara simbolis di Terengganu, Malaysia. Dari Pekanbaru turut menyertai segenap keluarga besar H. Hasymi dan M. Chudhori serta beberapa pengurus Yawatim Pekanbaru. Sedangkan dari Surabaya turut hadir Prof. Djoko Agus Purwanto (Pembina Yawatim sekaligus Wakil Direktur Rumah Sakit Pendidikan Unair), Mochammad Kholiq (Ketua Yawatim) serta beberapa pengurus.

Setelah janjian bertemu di Kuala Lumpur pada 28 Maret 2018 rombongan melanjutkan perjalanan darat Kuala Lumpur – Terengganu yang ditempuh lebih kurang 7 jam. Agenda hari kedua berkunjung ke UCB (University College Bestari), sebuah universitas yang didirikan oleh PEYATIM yang pembiayaannya berbasis wakaf, disinilah kita banyak belajar pengembangan wakaf pendidikan dan wakaf produktif. Unit usaha produktif yang telah dilakukan diantaranya perkebunan sawit, perkebunan nanas, budidaya madu Trigona hingga ternak kuda pacu khusus untuk perlombaan. Ada kuda Arab, Kuda Thailand, India hingga Kuda Amerika dengan kisaran harga sekitar 60.000 RM (200 jutaan rupiah) per ekor. Terus berapa harga madu dari budi daya trigona ini ?… ternyata lumayan mahal juga. Harga madu trigona ini sekitar 700 ribuan per 3/4 liter, . Selain itu produk olahan dari budidaya trigona ini juga bermacam-macam. Mulai untuk obat hingga sabun mandi dan komestik. Model kampus berbasis wakaf produktif seperti inilah yang ingin di wujudkan Yawatim , tentu dengan partisipasi dan doa dari saudaraku semua, bismillah…

Selain ke UCB, rombongan juga berkunjung ke rumah Yatim Perkaya daerah Marang, Terengganu. Dari sisi manajemen sangat terbuka dengan memberdayakan pengurus harian dan sukarelawan. Standar prasarana dan luas lahannya juga tak tanggung tanggung, 10 hektar. Sedangkan sistem pendidikannya “ seimbang” dengan kombinasi antara kurikulum pemerintah dan kurikulum sendiri. Sekolahnya ada yang diluar juga ada yang didalam asrama. Dari 300 anak yang tinggal saat ini , 160 sekolah diluar , 140 sekolah di dalam yang diberi nama SMAT (Sekolah Menengah Akademi Tahfidz) dengan konsep pembelajaran agama dan umum secara seimbang. Ekstra kurikulernya juga bermacam-macam, mulai sepak takraw, sepak bola , nasyid, rebana, resimen, marching band. Selain itu juga ada silat dan ekstra lain terkait adat budaya setempat.

Terkait adat-istiadat Melayu memang di Malaysia sangat di jaga ketat. Dengan adanya system kerajaan, tugas utama seorang raja adalah menjaga agama dan adat. Sedangkan tugas perdana menteri adalah menjalankan pembangunan sepesat pesatnya melalui roda pemerintahan. Dari kombinasi ini kesan kota modern, islami dan tetap alami akan kita dapatkan dibeberapa kota Malaysia.Contohnya di Terengganu telah banyak berdiri gedung tinggi, didukung tata kota dan sanitasinya cukup baik ditunjang budaya bersih. Saat ini dengan bangganya juga mengkampanyekan sepeda pancal sebagai future transportation (transportasi masadepan). Kesan alami terlihat dengan banyaknya burung terbang bebas tanpa diburu. Pagi-pagi juga sudah terdengar deruan mesin boat para nelayan bercampur suara ombak laut cina selatan yang menyapu batu -batu besar penahan abrasi . Kesan Islami terlihat dari bangunan masjid-masjid cukup luas dengan fasilitas beragam dan jamaah subuh berjubel. Di beberapa tempat, seperti perempatan tertentu juga berdiri tegak batu prasasti dengan tulisan arab. Tidak hanya prasasti, nama jalan, nama toko, merk, papan pengumuman publik dll juga harus disertai tulisan arab.

Ketika saya berbincang dengan beberapa anak di Malaysia dan rekan yang bekerja di UTM (Universitas Teknologi Malaysia), kota modern, alami dan Islami ini bukan didapatkan serta merta. Namun melalui proses panjang melalui jalur pendidikan juga. Bagi warga muslim Malaysia wajib menyekolahkan anaknya di dua lembaga. Pertama sekolah umum (kebangsaan) dan yang kedua sekolah agama. Tidak ada istilah fullday, namun jangan tanya panjangnya jam belajar. Pagi sekolah umum, tengah hari pulang dan istirahat sebentar sorenya wajib sekolah agama, begitu juga sebaliknya. Sehingga anak-anak tidak punya banyak waktu bermain dirumah, bermainnya di sekolah. Apa tidak jenuh ? Ya mungkin jenuh juga. Namun hal ini juga diantisipasi dengan fasilitas yang memadai. Sekolah agama juga standart, dilengkapi sarana bermain yang lengkap.

Namun demikian dibalik kemajuan tentu masih ada juga kekurangan disisi-sisi yang lain bahkan dengan keadaan yang memprihatinkan. Seperti yang dialami anak-anak TKI kita di Malaysia. Karena dokumen tidak lengkap, akhirnya tidak dapat mengakses pendidikan. Bahkan banyak yang tidak sekolah. Berawal dari keprihatinan terhadap pendidikan anak-anak TKI di Malaysia seperti itu, tahun 2012 Pak Djujur (pejabat pensosbud) KJRI Johor Bahru mulai merintis sekolah. Berkat kegigihan Pak Djujur, Ibu Dewi Lestari dkk dan dukungan KJRI yang saat itu dipimpin oleh Bapak Taufiq, satu-satunya sekolah Indonesia di Johor itu terus berkembang. Dari murid yang awalnya 9 anak , tahun 2018 ini telah mencapai 214 anak yang terdiri 187 anak tingkat SD dan 27 SMP. Jumlah guru juga telah berkembang menjadi 16 orang, menyesuaikan rombongan belajar(kelas) anak-anak ini cukup beragam. Jumlah itu belum termasuk kelas ICC (Indonesian Community Center) yang letaknya di Muar , kelas jauh yang muridnya sampai sekarang belum berani menggunakan seragam merah putih karena alasan keamanan. Juga belum termasuk kelas yang di Pahang dan Klang.
Di balik perkembangan yang menggembirakan ini tentu ada saja masalah dan kendala yang harus dicarikan solusi. Permasalahan utama dari tahun ke tahun adalah transportasi anak -anak. Mengapa demikian ? Dengan dokumen yang sebagian besar kurang lengkap, anak-anak ini harus tinggal di daerah pinggiran. Tempat dan jaraknyapun beragam hingga mencapai 32-an KM dari sekolah, misalnya yang tinggal didaerah Kulai. Berbagai upaya telah dilakukan pihak sekolah dengan membeli kendaraan sendiri ataupun menyewa. Namun karena anggaran cukup terbatas, anak-anak inipun harus membayar antra 180 RM (600 an ribu rupiah) hingga 350 RM (1,2 juta rupiah) untuk biaya transport saja. Akibat transport yang mahal ini, beberapa anak nunggak dan akhirnya berhenti sekolah.

Ketika saya bertemu dengan pak Rahmat (Humas SIJB) , dia menuturkan memang biaya transport anak-anak di Johor cukup mahal, selain 2 mobil milik sekolah, saat ini pihak sekolah juga menyewa 3 mobil lagi. Biaya sewa permobil mencapai 2800 RM (6,8 juta-an rupiah ) per bulan dan biaya BBM 1300 RM (4,5 jt-an) setiap bulan belum termasuk gaji sopir antar jemput dll. Permasalahan yang lain ..ada juga anak terlantar yang dimanfaatkan orang-orang yang kurang tanggung jawab. Dengan pola seperti ini… Setelah anak-anak ini tidak ada lagi yang mengasuh mereka ada yang diambil anak angkat dengan janji untuk di sekolahkan, namun kenyataannya malah disuruh bantu kerja. Ada yang sudah hampir setahun dijanjikan, namun ketika saya datangi anak inipun belum sekolah sama sekali. Beginilah keadaan sebagian anak –anak Indonesia yang di sana.

Selama 5-6 tahun terakhir Himmatun ayat telah berusaha memberikan bantuan langsung terhadap anak-anak ini, termasuk tahun 2015 kemarin telah menyampaikan mobil wakaf untuk antar jemput. Paling tidak bisa mengurangi biaya transport yang cukup mahal,bagi masyarakat ekonomi lemah. Misalnya di kawasan TKI Kampung Pasir Putih dan Kampung Sungai Rinting. Kehidupan TKI di kampung-kampung ini beragam, ada yang sebagai pembantu budi daya kupang di pesisir pantai, pengupas kulit kerang/kupang, pengupas kulit bawang, banyak juga kuli bangunan serabutan. Sebagaimana yang dituturkan nenek Nurma, kehidupan yang cukup memprihatinkan dijalani oleh para pengupas kulit kerang/kupang serta pengupas kulit bawang dengan pendapatan 6-7 RM (20.000 – 25.000 rupiah) per hari. Pendapatan tersebut tentu tidak sebanding dengan kemajuan Johor yang begitu pesat. Kota terbesar kedua di Malaysia yang sedang mencanangkan kota bertaraf internasional tahun 2020.

Selain itu Himmatun Ayat juga membangun relasi dengan rumah yatim Barkat Johor, Darul Hanan Pasir Gudang , Ar-Rayyan serta pesantren Sidi Ibrahim kampung Maju Jaya. Selain sambung silaturohmi Himmatun ayat juga mencari peluang barangkali pesantren- pesantren ini dapat berkontribusi dalam bentuk memberikan tempat tinggal sementara yang kondusif bagi anak -anak Indonesia . Terutama bagi anak-anak yang sudah tidak ada sanak saudara ataupun ada wali tapi sudah tidak mampu mengasuh lagi. Mengapa sementara ? karena mereka hanya menunggu menyelesaikan sekolah sampai tingkat SMP. Setelah itu anak -anak ini harus tetap ikut program repatriasi dan dipulangkan ke Indonesia. Kecuali mau mengurus visa belajar yang tentunya dengan persyaratan dokumen yang lengkap juga. Alhamdulillah respon cukup baik. Bahkan ada yang langsung menawari untuk diikutkan program Tahfidz Sains. Karena permasalahan anak TKI ini cukup kompleks, tentunya perlu koordinasi lebih lanjut dengan pihak terkait. Terhadap berbagai permasalahan tersebut apa kontribusi yang akan kita lakukan ? Mari…,apapun pemikiran dan kontribusi saudara-saudari sangat berarti bagi mereka.

Leave a Reply