Mendidik Anak Yatim Hingga Siap Menikah (QS. An-Nisa’:6) bagian 4

Takwil firman Allah:  (Dan [janganlah kamu] tergesa-gesa [membelanjakannya] sebelum mereka dewasa).

Abu Ja’far berkata: Makna ungkapan,   “Dan (janganlah kamu) tergesa-gesa,” adalah mubadarah. Mubadarah adalah mashdar dari ungkapan baadartu hadza al amr mubadaratan wa bidaran (aku tergesa-gesa melakukan hal ini).

Makna firman Allah tersebaut adalah, wali anak-anak yatim. Allah berfirman kepada mereka, “Janganlah kalian memakan harta anak yatim melampaui batas-batas kepatutan, yakni (melampaui batas) yang telah Allah halalkan bagi kalian, dan (janganlah pula kalian) tergesa-gesa memakan harta mereka sebelum mereka baligh dan pintar, dikhawatirkan mereka (kemudian) menjadi baligh, sehingga kalian wajib menyerahkan harta itu kepada mereka.”

Riwayat-riwayat yang sesuai dengan makna tersebut adalah:

  1. Al Mutsanna menceritakan kepadaku, ia berkata: Abu Shalih menceritakan kepada kami, ia berkata: Mu’awiyah bin Shalih menceritakan kepadaku dari Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu Abbas, tentang firman Allah,  “Lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya),” bahwa maknanya adalah, “Janganlah kalian memakan harta anak yatim secara tergesa-gesa, sehingga dia akan terhalang untuk mendapatkan hartanya.”_214
  2. Al Hasan bin Yahya menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrazzaq mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ma’mar mengabarkan kepada kami dari Qatadah dan Al Hasan, tentang firman Allah,  “Dan janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya),” bahwa Allah berfirman, “Janganlah engkau berlebihan dalam hal itu dan janganlah engkau tergesa-gesa (untuk membelanjakan)nya.”_215
  3. Muhammad bin Al Husain menceritakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Mufadhdhal menceritakan kepada kami, ia berkata: Asbath menceritakan kepada kami dari As-Suddi, tentang firman Allah, “Dan (janganlah kamu) tergesa-gesa untuk (membelanjakan)nya,” sebelum mereka dewasa, kemudia mereka mengambil harta mereka._216
  4. Yunus menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu Wahb mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ibnu Zaid berkata tentang firman Allah,  “Lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya),” ia berkata, “Ayat ini turun berkenaan dengan wali anak yatim yang memakan harta anak yatim. Mereka mengajaknya makan bersama mereka –jika mereka tidak menemukan sesuatu yang dapat mereka makan—kemudian mereka menangguhkan (penyerahan harta)nya. Dia berkata, ‘Aku tidak akan menyerahkan hartanya kepadanya’. Engkau kemudia memakan hartanya karena engkau memang menginginkannya. Itu karena jika engkau tidak menyerahkan hartanya, maka engkau akan mendapatkan bagian darinya. Tapi jika engkau menyerahkan hartanya, engkau tidak mendapat bagian darinya.”_217

Posisi kata   pada kalimat   “Sebelum mereka dewaasa” adalah nashab karena mabadarah, sebab makna firman Allah tersebut adalah, laa ta’kuluuhaa mubadaratan kibrahum (janganlah kalian memakannya sebelum mereka dewasa).

Takwil firman Allah:  (Barangsiapa [di antara pemelihara itu] mampu, maka hendaklah ia menahan diri [dari memakan harta anak yatim itu] dan barangsiapa miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut).

Abu Ja’far berkata: Makna firman Allah,  “Barangsiapa [di antara pemelihara itu] mampu,” adalah wali anak-anak yatim (dalam memakan) harta mereka. Makna firman Allah,  “Maka hendaklah ia menahan diri” dari memakan hartanya, adalah, tanpa melampaui batas kepatutan dan tanpa tergesa-gesa sebelum mereka dewasa, (tapi) dengan cara yang telah Allah bolehkan untuk memakan hartanya.

Riwayat-riwayat yang sesuai dengan makna tersebut adalah:

  1. Ibnu Basysyar menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Ahmad menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami dari Al A’masy dan Ibnu Abi Laila, dari Al Hakam, dari Miqsam, dari Ibnu Abbas, tentang firman Allah, Barangsiapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu),” ia berkata, “Dikarenakan kecukupannya dengan hartanya, maka dia tidak memerlukan harta anak yatim itu.”_218

 

214_ Ibnu Abi Hatim dalam Tafsir (3/857).

215_ Abdurrazzaq dalam Tafsir (1/433).

216_ Ibnu Abi Hatim dalam Tafsor (3/867).

217_ Kami tidak mencantumkan atsar ini dalam beberapa buku referensi yang kami miliki.

218_ Ibnu Abi Hatim dalam Tafsor (3/867) dan Ibnu Athiyah dalam Al Muharrir Al Wajiz (2/11).

Leave a Reply