KEUTAMAAN BIRRUL WALIDAIN

Oleh:  Wafi Marzuqi Ammar, Lc.,M.Pd.I.,MA.,Ph.D Dosen LIPIA Surabaya dan Ahwal Syahsyiah Mahad Umar bin Al-Khattab SBY

Pembaca majalah bilyatimi… sudahkah hari ini kita mendoakan kebaikan untuk kedua orang tua kita?! Sudahkah kita berbuat baik kepada mereka?! Ataukah kita hanya memberi beban kepada mereka, di hari yang semestinya mereka istirahat dan duduk santai?!

Mari kita perhatikan nash-nash berikut ini:

Seorang lelaki bertanya kepada Al-Hasan Al-Bashri: “Saya sudah haji. Tapi ibu saya memberi izin untuk haji lagi.” Al-Hasan berkata padanya: “Sungguh! Satu kali duduk yang kamu lakukan bersamanya pada meja makan, lebih saya sukai daripada hajimu ini.” (Kitab Al-Birr wa Ash-Shilah, dengan sanad sahih)

Ini menunjukkan: Birrul walidain lebih baik daripada haji sekalipun.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Seorang anak tidak bisa membalasi kebaikan orang tua, kecuali mendapati orang tuanya sebagai budak, kemudian anak membelinya dan memerdekakannya.” (Sahih Muslim, no. 3872)

Ini menunjukkan anak tidak mungkin bisa membalas kebaikan orang tua. Karena tidak mungkin anak seorang budak kecuali dia juga budak. Jika dirinya budak maka sangat sulit memerdekakan kedua orang tuanya.

Dari Anas radhiyallahu anhu berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Barangsiapa senang dipanjangkan umurnya, dan ditambah rizqinya, silakan berbakti kepada kedua orang tua dan menyambung rahimnya.” (HR. Ibnul Jauzi dalam Birrul waalidain, hlm. 2, juga Ahmad dalam Al-Musnad, no. 13401 dengan sanad sahih)

Ini menunjukkan bahwa Birrul Walidain sangat memperbanyak rizqi di samping menjadi penyebab panjang umur dan datangnya kesehatan.

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu anhuma dia berkata: Seorang lelaki datang meminta izin kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam untuk berjihad. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bertanya kepadanya: “Apa kedua orang tuamu masih hidup?” dia menjawab: “Masih.” Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Pada keduanya hendaknya engkau berjihad.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dalam kedua kitab sahihnya)

Ini menunjukkan bahwa jihad yang hukumnya fardhu kifayah, harus ada izin dari kedua orang tua. Jika salah satu dari keduanya tidak menyetujui maka dia jangan berangkat jihad. Adapun jihad yang hukumnya fardhu ain maka tidak perlu meminta izin kepada kedua orang tua.

Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma berkata:

“Saya tidak menemukan amalan yang paling mendekatkan seseorang kepada Allah daripada berbakti kepada ibu.” (Sahih Al-Adab Al-Mufrad, no. 4)

Ini menunjukkan bahwa berbakti kepada ibu merupakan amalan yang paling mendekatkan seseorang kepada Allah ta’ala.

Seorang lelaki datang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dia berkata:

“Saya telah mengerjakan suatu dosa besar. Apakah saya bisa bertaubat?” Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bertanya: “Apakah engkau mempunyai ibu?” dia menjawab: “Tidak.” Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bertanya: “Apa engkau mempunyai bibi?” dia menjawab: “Iya.” Nabi bersabda: “Berbaktilah pada bibimu.” (HR. At-Tirmidzi, ibnu Hibban dan Al-Hakim. Lihat: Sahih At-Targhib, no. 2504)

Ini menunjukkan bahwa berbakti kepada orang tua, dan jika tidak ada maka kepada bibi, merupakan amalan yang paling menghapuskan dosa besar.

Dari Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhuma dia berkata:

Seorang lelaki berkata: “Wahai Rasulullah! Saya punya harta dan anak. Tapi bapak saya hendak mengambil harta saya.” Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Engkau dan hartamu adalah milik ayahmu.” (Sahih Ibnu Majah, no. 1855)

Ini menunjukkan bahwa harta yang dimiliki anak adalah harta bapaknya. Karena itu janganlah anak kikir terhadap kedua orang tua dalam masalah harta. Karena anak tidak akan muncul ke dunia kecuali karena kedua orang tuanya.

            Wallaahu a’lam bish shawaab.

 

Gambar: https://stevanstmikpringsewu.wordpress.com/2015/11/10/berbuat-baik-kepada-orang-tua-merupakan-kewajiban-bagi-muslim/

Leave a Reply