Pemberian Nafkah dan Pemberdayaan Anak Yatim DAlam Al Qur’an

Oleh: Budi Hartoyo (Ketua Yayasan Himmatun Ayat)

Dalam tulisan iftitah dua edisi sebelumnya telah kita bahas hak-hak anak yatim. Pertama, hak perlindungan diri dan harta anak yatim; kedua, hak pendidikan dan pengasuhan anak yatim. Dalam kesempatan ini kita akan membahas hak yang ketiga, yaitu hak pemberian nafkah dan pemberdayaan anak yatim. Pembahasan pertama terkait pemberian nafkah terhadap anak yatim. Menurut istilah nafkah (nafaqah) adalah pengeluaran seseorang sesuatu yang wajib dikeluarkan kepada mereka yang wajib menerimanya, seperti berupa roti, makanan, pakaian, tempat tinggal ataupun lainnya. Sedangkan menurut al-Hasan al-Thibrisi, nafaqah adalah pengeluaran sesuatu dari hak milik seseorang baik dengan penjualan , pembelian maupun sesuatu yang berhubungan dengannya. Atau secara umum bahwa nafaqah adalah pengeluaran seseorang dari harta bendanya, baik berupa uang atau bentuk lain.
Nafaqah pada hakikatnya hanya diberikan orang mampu kepada yang berhak menerimanya. Dengan kondisi yang masih anak-anak (lemah) anak yatim juga menjadi golongan yang berhak menerima nafkah tersebut. Melalui ungkapan-ungkapan indah dan menarik dalam al-Quran, Alloh menganjurkan penyantunan material (infaq dan shadaqah) terhadap anak yatim. Allah menjadikan aksi sosial yang berupa pemberian makanan yang disukai kepada anak yatim sebagai salah satu upaya terbebasnya seseorang dari kepedihan dihari pembalasan. Allah juga mensyaratkan agar sesuatu yang diberikan berupa sesuatu yang disukai oleh pemiliknya (baik bagi pemberinya).
Secara rinci Allah juga menjelaskan urutan kepada siapa saja mereka hendak menafkahkan harta tersebut, sebagaimana dijelaskan dalam surat al- Baqarah: 215. “Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang yang mereka nafkahkan , katakanlah: apa yang mereka nafkahkan hendaknya diberikan kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang dalam perjalanan. Dan apa saja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah maha mengetahuinya.” Dari ayat tersebut, al-Maraghi menjelaskan bahwa bagi mereka yang ingin memberikan nafaqah, hendaklah ia mendahulukan kedua orangtuanya, sebab mereka berdua yang telah mendidiknya dikala ia masih kecil, lalu anak-anaknya atau anak mereka, kemudian saudaranya, lalu anak yatim, para fakir miskin dan Ibnu Sabil.
Urutan penerima nafaqah dalam ayat tersebut, menurut sayyid Qutub merupakan bukti bahwa manusia dalam memberikan nafaqah pada hakikatnya mempunyai beberapa kecenderungan, yaitu kecenderungan untuk memberikan infaq kepada keluarga, kepada orang lain baik bersifat sayang, kasihan, dan hubungan kemanusiaan seiman dan seagama. Urutan penerima infaq ini juga ditegaskan Rasulullah : Dari Jabir bahwa Rasulullah saw. Berkata kepada seseorang : mulailah dari dirimu sendiri, maka bersedekahlah kepadanya, dan apabila masih ada kelebihan, maka untuk keluargamu dan apabila masih ada kelebihan maka berikanlah pada kerabat dekatmu apabila masih ada kelebihan kerabat dekatmu, maka seperti ini, dan seperti ini(HR Muslim). Dengan demikian, ayat dan beberapa hadis tersebut mengandung anjuran agar manusia berinfaq dan bersedekah dengan harta yang dimilikinya yang paling baik, seorang tidak boleh kikir dan tidak boleh berinfaq dengan harta yang paling jelek.
Pembahasan kedua terkait pemberdayaan yatim. Baik menyangkut pemberdayaan pribadi anak yatim maupun harta anak yatim. Pemberdayaan yang menyangkut pribadi anak yatim dilakukan melalui pengasuhan dan pendidikan, sebagaimana telah kita bahas pada edisi sebelumnya. Menyangkut harta, Ali al-Shabuni menukil pendapat al-Razi yang mengatakan, bahwa harta adalah sesuatu yang bermanfaat yang dibutuhkan manusia. Karena ada kesatuan bentuk, maka layak sekali kalau harta anak yang masih belum cukup dewasa dinisbatkan kepada wali. Adapun tugas wali dalam hal ini memelihara dan mengembangkan harta anak yatim.
Mengelola harta anak yatim merupakan bagian integral dari mengasuh atau mengurus mereka. Oleh karena itu, wali anak yatim atau orang yang diwasiati mengelola harta anak yatim diperkenankan mengembangkan harta mereka melalui berbagai kegiatan usaha atau investasi yang sekiranya dapat mendatangkan keuntungan atau kebaikan untuk masa depan anak yatim tersebut. Misalnya, berkoperasi yang paling mudah atau untuk modal dalam perdagangan. Para ulama mempunyai perbedaan pandangan terkait mengelola dan mengembangkan harta anak yatim. Perbedaan pandangan itu lebih dikarenakan perbedaan dalam memaknai kata ishlah (berbuat baik) pada anak yatim maupun pada hartanya. Kalangan madzab Syafi’I menekankan bahwa mengembangkan harta anak yatim sesuai kemampuan pengelola hukumnya wajib. Sementara kalangan Maliki berpendapat, bahwa mengelola harta anak yatim dengan cara dikembangkan hukumnya sunnah, namun memelihara harta anak yatim dengan segala cara adalah wajib hukumnya.
Menurut Sayyid Qutub, orang yang mengurus anak yatim tidak boleh mendekati harta anak yatim kecuali dengan cara yang terbaik, juga agar mengembangkannya, sehingga dapat menyerahkan harta itu kepadanya secara penuh dan setelah berkembang menjadi banyak, yaitu ketika anak tersebut mencapai kematangannya, baik dalam kekuatan fisik maupun akalnya. HAMKA dalam tafsir al-azhar juga menjelaskan, bahwa harta anak yatim sebaiknya dijalankan, dicarakan dan diperniagakan agar tidak membeku, tentunya tetap dikontrol dengan iman hingga anak yatim tersebut sampai dewasa, yaitu sudah bisa memperedarkan hartanya sendiri. Ada juga ketentuan syara‟, walaupun sudah dewasa, tetapi safih (bodoh), maka wali berhak memegang harta itu dan memberi belanja atau jaminan hidup bagi anak atau orang dewasa yang bodoh tersebut.
Firman Allah dalam surah Al-nisa‟ ayat 5 : Dan janganlah kamu menyerahkan kepada al-sufaha’ (orang-orang yang belum sempurna akalnya (yang tidak bisa mengelola harta benda)), harta kamu (atau harta mereka yang ada dalam kekuasaan kamu) yang dijadikan Allah untuk kamu sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja (dalam harta itu) dan pakaian serta ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik. Menurut ulama kata al Sufaha merupakan bentuk jama‟ dari kata safih yang berarti tidak memiliki kelayakan atau pengetahuan, bodoh, berakhlak buruk. Maksud kata al Sufaha’ dalam ayat di atas menunjukkan anak-anak yatim yang masih dalam kurang pengetahuan atau kemampuannya untuk mengelola harta yang menjadi haknya. Walaupun mereka sudah cukup umur untuk mendapatkan harta yang menjadi haknya, namun karena keadannya itu, sebaiknya harta tersebut tetap dikelola oleh walinya, karena dikhawatirkan harta tersebut akan habis tanpa ada manfaat. Menurut al-Maraghi Qiyaman li Al-Nas dalam ayat di atas ditujukan kepada harta benda, bahwa dengan harta tersebut kebutuhan dan perlengkapan hidup manusia bisa tegak selagi harta anak yatim berada pada orang yang sudah dewasa, dapat membimbing dan ekonomis. Yaitu mereka yang dengan baik mengivestasikan dan menabungnya, sera tidak melewati batas dalam menginfakkan harta benda.
Sedangkan berkata-kata yang baik, adalah berkata terus terang kepada anak yatim bahwa harta itu adalah milik mereka, wali hanya menyimpan dan kelak akan mengembalikannya jika ia dewasa. Juga memberi petuah dan nasihat kepada anak yatim yang safih agar tidak menyia-nyiakan harta dan berlaku boros, juga wajib mengajari hal-hal yang bisa mengantarkannya menuju kedewasaan. Sebelum harta anak yatim diserahkan kepadanya, hendaknya wali menguji kedewasaan mereka agar diperoleh kepastian bahwa mereka benar-benar telah dewasa dan mampu bertanggung jawab atas segala tindakannya.
Firman Allah dalam surah Al-Nisa ayat 6 : Dan ujilah anak-anak yatim (dalam hal pengelolaan dan penggunaan harta) sampai mereka mencapai pernikahan. Maka jika kamu telah mengetahui adanya pada mereka kecerdasan, maka serahkanlah kepada mereka harta-harta mereka. Menurut al-Maraghi menguji anak yatim dilakukan dengan cara memberi sedikit harta untuk digunakan sendiri, apabila ia mempergunakan dengan baik, berarti ia sudah dewasa. Karena yang dimaksud dewasa disini adalah apabila ia telah mengerti dengan baik cara menggunakan harta dan membelanjakannya. Hal ini sebagai tanda bahwa ia berakal sehat dan berpikir dengan baik. Ujian ini terus dilakukan sampai mereka mencapai umur baligh, yakni ketika mereka sudah pantas membina rumah tangga. Apabila wali merasakan dalam diri mereka, terdapat-tanda-tanda kedewasaan, maka segera memberikan harta mereka. Sebagian ulama mengatakan bahwa penyerahan kepada mereka itu hendaknya dilakukan setelah mereka baligh dan sesudah diperhatikan adanya rusydan (kesempurnaan akal-dewasa). Menurut jumhur ulama, pengertian rusydan yaitu, kematangan akal dan kemampuan memelihara harta.
Dari penjelasan tersebut diatas dan penjelasan edisi sebelumnya, wali yatim mempunyai tugas yang cukup berat menyangkut amanah harta anak yatim. Secara umum terbagi menjadi tiga hal yaitu melindungi, memelihara dan memanfaatkan harta dengan baik. Memanfaatkan harta dengan baik inipun al-Quran juga menjelaskan secara detail lagi yaitu pemanfaatan jangka pendek (berupa pemberian nafkah kebutuhan sehari-hari) dan pemanfaatan jangka panjang (berupa pemberdayaan/pengembangan harta anak yatim). Agar suatu saat jika anak yatim telah dewasa mempunyai modal yang cukup kuat untuk berumah tangga dan terjun dimasyarakat, bukan anak-anak yang lemah. Sebagaimana dijelaskan dalam al-Quran surat al-Nisa:8, “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka”, oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar”.

Leave a Reply