Mungkinkah Belajar Tanpa Sekolah Formal?

Oleh; Agus Triono Syafi’ie S.Psi

Menurut keyakinan dari konsep teori Psikologi Humanistik setiap manusia dilahirkan mempunyai daya kreatif dan potensi diri yang mereka bisa kembangkan dalam mencapai aktualisasi diri,dan itu sesungguhnya sebagai potensi besar manusia. Dalam perkembangan dan pertumbuhan seseorang tidak bisa lepas dari proses belajar, karena dengan adanya proses belajar maka prilaku seseorang akan terbentuk. Belajar merupakan insting setiap manusia, khususnya pada anak-anak, yang berproses dalam mencapai aktualisasi diri. Para ahli parenting menyakini bahwa setiap anak dilahirkan membawa potensi kemampuan, tetapi potensi tersebut terpenggal atau terbunuh dalam bangku sekolah, dimana kognitif, afektif dan motorik anak dipaksa untuk meladeni segala tuntutan kurikulum sekolah yang tidak berorentasi pada kebutuhan belajar anak, tetapi hanya sekedar tuntutan dalam pencapaian sebuah nilai-nilai yang mereka targetkan, sehingga hal ini memaksa perhatian anak dalam proses belajarnya yang hanya sekedar berorentasi mencari nilai, mereka terlupakan dengan sejatinya orentasi diri dalam pencapaian aktualisasi diri, disinilah letak tragedi terpenggalnya daya kreatif dan potensi anak dalam sekolah formal.

Melihat kondisi tersebut muncul pertanyaan yang sangat mendasar, yaitu mungkinkah anak tumbuh dan berkembang tanpa sekolah formal. Hal tersebut sejatinya sangat mungkin terjadi dijaman sekarang, karena diera kemajuan teknologi informasi seperti saat ini, tidak ada lagi batasan dalam mendapatkan informasi dan pengetahuan di dunia ini, di era medsos saat ini segala hal secara global untuk saling mengakses segala bentuk informasi atau pengetahuan secara bebas, maka kondisi tersebut menjadi fasilitator bagi setiap individu untuk membangun potensi dirinya, melebihi segala informasi yang didapatkan dibangku sekolah formal. Situasi tersebut sangat menunjang bagi siapa saja untuk berproses dalam kebutuhan belajarnya tanpa melalui bangku sekolah, dan itu menjadi pilihan bagi para orang tua yang mempunyai independesi dalam mengambil keputusan, karena dipastikan pilihan untuk tidak mensekolahkan anaknya akan berbenturan mainstream cara berfikir para orang tua, bahwa pendidikan hanya bisa didapatkan dalam sekolah formal.

Berproses belajar tanpa sekolah sejatinya memberikan independent untuk memfokuskan diri dalam memenuhi kebutuhan belajar dengan control sepenuhnya dari orang tua atas segala potensi kontaminasi sosial. Dengan proses pendidikan independent memastikan berproses belajar yang terjadi berorentasi pada diri, dengan memahami potensi kemampuan diri , tanpa dibebani oleh segala tuntutan eksternal seperti halnya pada sekolah formal, dan hal tersebut sudah dilakukan oleh orang-orang dimasa jaman sebelumnya, mereka berproses dalam orentasi kebutuhan belajarnya tidak dalam sistem sekolah formal, dan hasilnya diantara mereka menjadi orang-orang besar dan kuat, yang membangun peradaban pada jamannya. Mungkin kita semua mengenal Thomas Alfa Edison, yang sejak usia 7 tahun tidak bersekolah, tetapi dalam bimbingan langsung dari orang tuanya Thomas Alfa Edison besar menjadi orang jenius dunia dengan 1000 penemuan yang dipatenkan, dan juga jauh sebelumnya nabi Muhammad SAW dengan anak didiknya telah melahirkan orang-orang yang luar biasa, diantaranya Ali bin abi Tholib, Anas bin Malik, dan Abdullah bin Abas, mereka semua berproses dalam kebutuhan belajarnya tanpa sekolah formal, tetapi kualitas SDMnya tidak kalah dengan orang moderent saat ini, yang berproses belajar dalam sekolah formal.

Mungkin sebelum adanya kemajuan teknologi informasi seperti saat ini untuk mengakses informasi dan pengetahuan sangatlah sulit dan terbatas, sehingga dijaman itu sangatlah berat bagi siapa saja yang berproses belajar tanpa melalui sekolah formal, sehingga sekolah menjadi pilihan utama dalam proses belajar, tetapi saat ini dengan kemajuan teknologi informasi, dengan adanya internet segala sesuatunya menjadi sangat mudah dalam mengkontruksi pengetahuan atau keterampilan, dan hal tersebut menjadi potensi besar dalam pilihan untuk berproses belajar tanpa sekolah formal, dan pilihan tersebut tergantung dengan komitment dan kemampuan orang tua dalam mengawal proses belajar anaknya tanpa sekolah formal, walaupun tetap untuk legalitas formal ijasah bisa diusahkannya, dan itu bisa didapatkan melalui jalur persamaan. Mungkin inilah cara pandang manusia moderent kedepan, dimana kemungkinan masa depan lebih membutuhkan dan menghargai kualitas kemampuan specific sebagai aspek primer, dari pada hanya sekedar sebuah ijasah.

Leave a Reply