Mimpi Nabi, Rindu Mati

Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag  Guru Besar UIN Sunan Ampel Sby & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia”

“Ingatlah, sungguh para kekasih Allah itu, tidak ada kekhawatiran bagi mereka dan tidak (pula) bersedih. (Mereka adalah) orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa. Mereka akan mendapat berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan juga di akhirat. Tidak ada perubahan pada janji-janji Allah itu. Dan itulah kesuksesan yang besar” (QS. Yunus [10]: 62-64)

Artikel ini merupakan kelanjutan dari tulisan saya sebelumnya, “Mimpi Nabi, Mimpi Produktif.” Sebelum ayat-ayat di atas, Allah menjelaskan, semua yang dilakukan manusia disaksikan dan dicatat oleh Allah. Ayat di atas merupakan penegasan lebih lanjut bahwa perbuatan yang baik itu tidak hanya disaksikan dan dicatat, melainkan juga dibalas oleh Allah dengan kegembiraan dunia dan akhirat (busyra fil hayatid dunya wafil akhirah).

Kegembiraan itu antara lain berupa janji Allah untuk mengirim malaikat menjelang kematian orang mukmin dan memperlihatkan surga yang sudah disiapkan untuknya. Kegembiraan itu juga berupa mimpi bertemu Nabi dan mimpi-mimpi baik lainnya. Ubadah bin Shamit r.a bertanya pada Nabi SAW makna al busyra (berita gembira) pada ayat di atas, lalu dijawab, “Itulah mimpi yang benar.”

Dalam kitab Ra-aitun Nabiyya SAW, Mi-atu Qisshatin Min Rua-an Nabi (100 Kisah Nyata Mimpi Melihat Nabi)karya Abdul Aziz Ahmad Abdul Aziz dikatakan, mimpi jumpa Nabi adalah kegembiraan dan kemuliaan, sebab ia adalah cahaya Allah, kabar gembira, peringatan, pembuka tabir (al futuh) rahasia-rahasia ilahiah (QS. Al A’raf [07]: 96), dan penampakan Nabi dari dalam diri manusia itu sendiri (QS. Al Hujurat [49]: 07). Kitab itu menganjurkan Anda untuk lebih bersungguh-sungguh jika benar-benar ingin jumpa Nabi, seperti kesungguhan yang dilakukan Maryam untuk menggoyang pohon sampai buah kurma berjatuhan untuk makanan si bayi Isa a.s yang baru saja dilahirkan (QS. Maryam [09]: 25). Buku itu menambahkan, jika Anda fokus terhadap sesuatu, maka alam bawah sadar Anda menyertainya. Misalnya, ketika Anda sangat haus dan belum mendapatkan sedikitpun air, lalu tertidur, maka besar kemungkinan Anda akan melihat air segar dalam tidur Anda. Demikian juga, jika Anda fokus untuk mengharap perjumpaan dengan Nabi SAW.

Beberapa ulama terkemuka sering mendapatkan al futuh keilmuan dan kemuliaan melalui mimpi. Itulah yang dialami oleh Imam As Syafii, Imam Nawawi, Ibnu Sina. Abu Abdillah bermimpi melihat Nabi SAW duduk di masjid bersama Imam Malik bin Anas. Nabi memberikan minyak wangi misik kepada Imam Malik, lalu ia membagikannnya kepada orang banyak. Imam Syafi’i bercerita, “Aku bermimpi dipanggil Nabi, “Mendekatlah kepadaku!.” Lalu ia memasukkan ludahnya di mulutku seraya berkata, “Cukup, sekarang pergilah. Semoga Allah memberkahimu.” Ahmad bin Hajjaj mimpi melihat Nabi ditanya banyak orang tentang berbagai masalah, dan ia selalu menunjuk Imam Ahmad bin Hanbal. Ali bin Hamzah al Kisaa-i membaca Al Qur’an di depan umum. Pada malam harinya, ia bermimpi ditanya Nabi, “Apa benar engkau Ali bin Hamzah? “Ya” “Bacalah untukku Al Qur’an,” pinta Nabi. “Lalu, saya membaca QS As AShaffat: 1-3. Nabi berkata, “Bagus. Lanjutkan!.” Maka saya melanjutkan bacaan surat tersebut sampai ayat 94, dan Nabi memberi pujian yang sama, seraya mengatakan, “Saya akan menyebut namamu dengan bangga kelak di hadapan para malaikat dan semua pembaca Al Qur’an.”

Para sahabat dan orang-orang mulia terdahulu juga mendapat al futuh tentang kematiannya melalui Nabi SAW. Usman bin Affan r.a pada suatu hari berpuasa dan memerdekakan 20 orang budak. Malam harinya, ia mimpi berjumpa Nabi SAW, “Wahai Usman, maukah kamu berbuka puasa denganku?” “Tantu wahai nabi,” jawab Usman. Esok harinya, ia terbunuh. Ada juga seorang pria yang bermimpi melihat Nabi memanggil-manggil Abdullah bin Mas’ud di tengah kerumunan orang, “Kemari, jangan jauh dariku!.” Pria itu lalu memberitahukan mimpi itu kepadanya. Abdullah bin Mas’ud berkata, “Baiklah, besok pagi mari ikut saya ke Madinah!,” Ternyata, pada hari itu Ibnu Mas’ud meninggal dunia, dan ia bisa shalat janazah untuknya bersama banyak orang di Masjid Madinah. At Thawawisi berkata, “Saya mimpi melihat Nabi sedang berdiri di suatu tempat. Saya menyampaikan salam dan bertanya kepadanya, “Mengapa tuan di sini?” Nabi menjawab, “Saya sedang menunggu Al Bukhari.” Esok harinya, beliau meninggal dunia.

Para sahabat dan ulama terdahulu memandang kematian sebagai suatu yang indah. Abu Darda’ r.a berkata, “Orang tidak suka miskin, tapi aku menyukainya, sebab bisa menjadikan aku rendah hati. Aku juga menyukai penyakit, sebab bisa menghapus dosa. Orang tidak suka kematian, tapi aku menyukainya, sebab aku bisa segera bertemu dengan Kekasih sejati” Komaruddin Hidayat menulis, “Berdamailah dengan kematian, karena Anda sedang dinaikkan di atas pesawat untuk terbang jauh menuju pertemuan dengan Allah, Nabi SAW, keluarga tercinta dan teman-teman lama yang telah mendahului Anda. Kematian bagaikan kepompong yang berubah menjadi kupu-kupu, terbang di antara bunga-bunga, tanpa jejak kerusakan. Jika Anda riang melihat kematian, maka riang pula hidup Anda. Sebaliknya, jika Anda cemas dan takut, maka kehidupan Anda terasa sesak dan mengerikan. Fokuslah untuk berkarya dan berkarya. Ar-Raghib Al Ashfahani mengatakan, “Kematian adalah “pecah telur” yang mengantarkan ayam mencapai tarap kesempurnaannya.”

Tulisan ini bukan dimaksudkan untuk kampanye kematian, melainkan ajakan memandang kematian sebagai sesuatu kepastian yang menyenangkan, lebih pasti dan menyenangkan daripada menunggu antrean di bandara. Semakin Anda cemas dan takut menghadapi kematian, semakin terbuka sejuta pintu stres untuk Anda. Fokuslah untuk berkarya besar untuk kemanusiaan dan agama, harumkan akhlak Anda, dan bersiaplah menerima kahadiran Nabi SAW dengan mukanya yang bersinar, senyumnya yang indah, dan wewangiannya yang menyegarkan untuk menjemput kematian Anda.

 

Referensi: (1) M. Quraish Shihab, Tafsir Al Misbah, vol. 5: 448- 456, (2) Abdul Aziz Ahmad Abdul Aziz, Ra-aitun Nabiyya SAW, Mi-atu Qisshatin Min Rua-an Nabi, (100 Kisah Nyata Mimpi Melihat Nabi), Terj. Kaserun AS Rachman, Penerbit Turos, Jakarta, 2015, (3) Komaruddin Hidayat, Berdamai dengan Kematian, Menjemput Ajal dengan Optimisme, Penerbit Hikmah, Jakarta, 2009, cet 9. P xii, (4) Komaruddin Hidayat, Psikologi Kematian, Mengubah Ketakutan Menjadi Optimisme, Penerbit Hikmah, Jakarta, 2006, cet VII, P x, p. 163 (5) Abdul Wahid, Senyum Indah Kanjeng Nabi, Penerbit Diva Press, Jogjakarta, 2016, CetI, p. 201

Leave a Reply