Larangan Menghitung Sadaqah

Oleh: Wafi Marzuqi Ammar, Lc., M.Pd.I.,MA.,Ph.D Dosen FAI Universitas Muhammadiyah Sidoarjo & Mahad Umar bin Al-Khattab Surabaya

Dari Aisyah RA dia berkata:
جَاءَهاَ سَائِلٌ، فَأَمَرَتْ لَهُ عَائِشَةُ بِشَيْءٍ، فَلَمَّا خَرَجَتِ الْخَادِمَةُ دَعَتْهَا، فَنَظَرَتْ إِلَيْهِ، فَقَالَ لَهَا رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ((مَا تُخْرِجِيْنَ شَيْئًا إِلَّا بِعِلْمِكَ؟)).قَالَتْ: إِنِّيْ لَأَعْلَمُ، فَقَالَ لَهَا:
((لاَ تُحْصِيْ فَيُحْصِي اللَّهُ عَلَيْكَ)).

Seorang pengemis datang kepadanya. Kemudian Aisyah memerintahkan agar sang pengemis diberi sesuatu. Ketika pelayan keluar untuk memberikan sesuatu itu, Aisyah memanggilnya untuk melihat apa yang diberikan sang pelayan. Maka Rasulullah y bertanya kepada Aisyah: “Apakah engkau tidak mengeluarkan sesuatu kecuali harus engkau ketahui?” Aisyah menjawab: “Iya, saya benar-benar tahu.” Rasulullah SAW bersabda padanya: “Jangan engkau menghitung pemberianmu. Sehingga Allah menghitung karuniaNya atasmu.” (Sahih Ibnu Hibban)

Pembaca Bilyatimi yang dirahmati Allah ta’ala.
Hadis ini sahih, diriwayatkan oleh Ibnu Hibban dalam Sahihnya, kitab Zakat, bab: Sadaqah tatawwu’, larangan menghitung sadaqah ketika mengeluarkannya, 8/151, no. 3365. Syuaib Al-Arnaut berkata: Sanadnya sahih sesuai syarat Asy-Syaikhain.

Juga diriwayatkan Abu Ya’la dalam Musnadnya, 7/440, no. 4463, Husain Salim Asad selaku pentahqiq, menyatakan: Sanadnya sahih.

Hadis ini mempunyai banyak pelajaran bagi orang-orang yang bersadaqah. Di antaranya:
Pertama: Ketika datang pengemis dan Anda memiliki rizqi, silakan berikan kepadanya apa yang Anda miliki. Sebagaimana Aisyah RA langsung memerintahkan pembantu untuk memberi sesuatu kepada sang pengemis. Karena sadaqah kepada siapa pun, pahalanya sangat besar. Apalagi Anda bersedekah dalam kondisi tidak memiliki. Dari Abu Hurairah RA: Nabi SAW bersabda:
((سَبَقَ دِرْهَمٌ مِائَةَ أَلْفِ دِرْهَمٍ))، قَالُوْا: وَكَيْفَ؟ قاَلَ: ((كاَنَ لِرَجُلٍ دِرْهَمَانِ تَصَدَّقَ بِأَحَدِهِمَا، وَانْطَلَقَ رَجُلٌ إِلَى عُرْضِ مَالِهِ فَأَخَذَ مِنْهُ مِائَةَ أَلْفِ دِرْهَمٍ فَتَصَدَّقَ بِهَا))
“Satu dirham mendahului seratus ribu dirham.” Para sahabat bertanya: “Mengapa bisa demikian?” Nabi SAW menjawab: “Ada seseorang memiliki dua dirham maka dia menyedekahkan salah satunya. Sementara ada orang lain mendatangi hartanya yang sanga melimpah, lalu mengambil seratus ribu dirham untuk disadaqahkan.” (Sunan An-Nasai, no. 2527 dengan sanad hasan)

Kedua: Jangan bermental miskin. Tapi jadilah orang bermental kaya. Sehingga saat miskin sekali pun, karena mental kaya, Anda senantiasa berinfaq dan memberi. Nabi y bersabda:
((الْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى))
“Tangan di atas (yang memberi) lebih baik daripada tangan di bawah (yang menerima).” (Sahih Al-Bukhari, no. 1427)

Adapun orang bermental miskin, meski hartanya berlimpah masih saja merasa kurang dan terus merasa dirinya berhak mendapat sadaqah sehingga tidak pernah memberi. Padahal sadaqah yang kita keluarkan, tidak pernah mengurangi harta kita. Nabi y bersabda:
((مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ))
“Sadaqah tidak pernah mengurangi harta.” (Sahih Muslim, no. 6757)
Ketiga: Yang menjadi judul pembahasan kita, yaitu dilarang menghitung-hitung sadaqah yang kita keluarkan. Allah tidak pernah menghitung-hitung karuniaNya atas kita. Mengapa kita harus menghitung-hitungnya. Karena itu Nabi y mengajari Ummul Mukminin, agar tidak menghitung-hitung apa yang diberikannya. Jika seseorang menghitung-hitung apa yang dikeluarkannya, niscaya Allah akan membatasi dan menghitung-hitung pemberianNya kepada hamba.
Justru yang diperintahkan pada kita, kita terus berinfaq tanpa henti dan yakin Allah pasti membalasi kita dengan yang jauh lebih baik. Nabi SAW berkata kepada Bilal:
((أَنْفِقْ بِلَالُ، وَلَا تَخْشَ مِنْ ذِي الْعَرْشِ إِقْلَالًا))
“Berinfaqlah wahai Bilal! Dan jangan takut miskin dari Rab sang pemilik Arsy.” (Syu’ab Al-Iman, 5/42 dan As-Sahihah, no. 2661)

Ketahuilah! Sifat orang-orang mukmin, senantiasa memberi dan mengerjakan amal shalih, tapi khawatir amal itu tidak diterima dari mereka. Allah berfirman:
وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوا وَّقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ ﴿٦٠﴾
“Orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka.” (QS. Al-Mukminun: 60)
Aisyah xbertanya kepada Nabi SAW tentang ayat ini: “Apakah mereka orang-orang yang berzina, minum khamar, dan mencuri?” Nabi SAW menjawab:
((لاَ يَا بِنْتَ الصِّدِّيْقِ، وَلَكِنَّهُمُ الَّذِيْنَ يَصُوْمُوْنَ، وَيُصَلُّوْنَ وَيَتَصَدَّقُوْنَ، وَهُمْ يَخَافُوْنَ لَا يُقْبَلُ مِنْهُمْ))
“Bukan wahai putri Ash-Shiddiq! Mereka adalah orang-orang yang berpuasa, mengerjakan shalat, dan bersedekah, tapi takut amalannya tidak diterima dari mereka.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 3175 dan Tafsir Ibni Katsir, 1/427)

Wallahu a’lam.

Leave a Reply