Mendidik Anak Yatim Hingga Siap Menikah (QS. An-Nisa’ : 6) (bag.2)

Takwil firman Allah:  (Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas [pandai memelihara harta]).

Abu Ja’far berkata: Maknanya adalah, “Jika kalian mendapati mereka dan mengetahui mereka telah cerdas.”

Riwayat-riwayat yang sesuai dengan makna tersebut adalah:

  1. Al Mutsanna menceritakan kepadaku, ia berkata: Abu Shalih menceritakan kepada kami, ia berkata: Mu’awiyah bin Shalih menceritakan kepadaku dari Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu Abbas, tentang firman Allah,  “Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta),” ia berkata, “Maknanya adalah, kalian mengetahui mereka.”_201

Dikatakan, “Anastu min fulaanin khairan wa barran” –dengan huruf alif yang dibaca panjang—“iinaasan, wa anastu bihi aniisan”—dengan huruf alif yang dibaca pendek—bila dia sayang kepada si fulan.

Disebutkan bahwa pada qira’at Abdullah, firman Allah tersebut tertera dengan redaksi fa’in ahsaitum, yang maknanya adalah fa’in ahsastum (mendapati).

Ahli takwil berbeda pendapat tentang makna ar-rusy yang disebutkan Allah pada ayat tersebut.

Sebagian berpendapat bahwa makna ar-rusy dalam ayat ini adalah pintar dan baik dalam urusan agamanya.

Riwayat-riwayat yang sesuai dengan pendapat tersebut adalah:

  1. Muhammad bin Al Husain menferitakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Mufadhdhal menceritakan kepada kami, ia berkata: Asbath menceritakan kepada kami dari As-Suddi, tentang firman Allah, Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas [pandai memelihara harta),” (ia berkata, “Maknanya adalah) pandai dan baik.”_202
  2. Bisyr bin Mu’adz menceritakan kepada kami, ia berkata: Yazid menceritakan kepada kami, ia berkata: Sa’id menceritakan kepada kami dari Qatadah, tentang firman Allah, Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta),” ia berkata, “Maknanya adalah, baik akal atau agamanya.”_203
  3. Ibnu Waki’ menceritakan kepada kami, ia berkata: Ayahku menceritakan kepadaku dari Mubarak, dari Al Hasan, ia berkata, “Maknanya adalah, cerdas dalam masalah agama, baik, dan dapat memelihara harta.”_204
  4. Al Mutsanna menceritakan kepadaku, ia berkata: Abu Shalih menceritakan kepada kami, ia berkata: Mu’awiyah menceritakan kepadaku dari Ali bin Abi Thalhah, dari Ibnu Abbas, tentang firman Allah, Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta),” (bahwa maknanya adalah cerdas) dan cakap dalam mengelola hartanya._205

Ada juga yang berpendapat bahwa makna kata ar-rusy adalah pandai (saja).

Riwayat-riwayat yang sesuai dengan pendapat tersebut adalah:

  1. Muhammad bin Basysyar menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrahman menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan menceritakan kepada kami dari Manshur, dari Mujahid, ia berkata, “Kami tidak akan memberikan kepada anak yatim hartanya, sekalipun dia mengambilnya ketika sudah berjenggut (dewasa), sekalipun dia sudah tua, hingga diketahui bahwa dia cerdas (pandai).”_206
  2. Ibnu Basysyar menceritakan kepada kami, ia berkata: Yahya menceritakan kepada kami dari Sufyan, dari Manshur, dari Mujahid, tentang firman Allah, Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta),” ia berkata, “Maknanya adalah, pandai.”_207
  3. Ya’qub bin Ibrahim menceritakan kepadaku, ia berkata: Husyaim menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Syabramah mengabarkan kepada kami dari Asy-Sya’bi, ia berkata: Aku (Abu Syabramah) mendengar Asy-Sya’bi berkata, “Seseorang mengambil (hartanya) ketika dia sudah dewasa, tapi saat itu dia belum mengerti.”_208

Ada juga yang berpendapat bahwa makna kata ar-rusy adalah, baik dan bisa mengetahui sesuatu yang dapat memperbaiki dirinya.

Riwayat-riwayat yang sesuai dengan pendapat tersebut adalah:

  1. Al Qasim menceritakan kepada kami, ia berkata: Al Husain menceritakan kepada kami, ia berkata: Hajjaj menceritakan kepadaku dari Ibnu Juraij, tentang firman Allah, Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta),” ia berkata, “Maknanya adalah, baik dan mengetahui sesuatu yang dapat memperbaiki dirinya.”_209

201_ Ibnu Abi Hatim dalam Tafsir (3/865).

202_ As-Suyuthi dalam Ad-Durr Al Mantsur (2/435). As-Suyuthi menisbatkan atsar ini kepada Ibnu Jarir. Atsar ini juga dicantumkan oleh Ibnu Jauzi dalam Zad Al Masir (2/15).

203_ Ibnu Athiyah dalam Al Muharrir Al Wajiz (2/11).

204_ Ibnu Abi Hatim dalam Tafsir (3/865) dan Ibnu Jauzi dalam Zad Al Masir (2/14 dan 15).

205_ Ibid

206_ Ibid

207_ Ibid

208_Al Mawardi dalam An-Nukat wa Al ‘Uyun (1/453).

209_ Ibid.

Leave a Reply