Perjalanan Panjang Membangun Kerjasama Mewujudkan Kampus Anak Yatim ASEAN

Berawal dari kunjungan PEYATIM (Pertubuhan Kebajikan Anak Yatim Malaysia) pada Maret 2005 ke Himmatun Ayat Surabaya, sedikit demi sedikit hubungan silaturohim antara lembaga 2 negara itu dirajut. Kunjungan waktu itu cukup berkesan karena dinilai mendinginkan suasana karena saat itu kondisi hubungan Indonesia Malaysia sedang ada masalah terkait perseteruan sebuah pulau. Kesan lain adalah begitu kontrasnya model pengurusan lembaga yatim antara dua Negara. Di Malaysia mereka yang terjun ke pengurusan yatim adalah mereka yang usianya rata-rata sudah tua bahkan umumnya setelah usia pensiun baru berkiprah . Sedangkan di Indonesia banyak ditemukan pengurus lembaga yatim masih muda-muda. Hubungan silaturohim antar lembaga yatim di Malaysia dan di Indonesia terus dikembangkan melalui kegiatan-kegiatan kunjungan. PEYATIM terus mengembangkan silaturohim diantaranya ke pesantren khusus yatim As-syafiiyah Jakarta, Panti bayi sehat Muhammadiyah Bandung serta panti lain di Jawa hingga asrama yatim di Aceh.

Untuk menguatkan jaringan yang ada di Indonesia, sesekali pengurus Himmatun Ayat dan beberapa panti di undang ke Malaysia untuk menyaksikan kegiatan-kegiatan besar antar panti asuhan di Malaysia. Misalnya dalam bentuk perayaan Sukya (pertandingan olah raga antar yatim) hingga MTQN (Majelis Tilawah Quran dan Nasyid) antar anak yatim se Malaysia. Begitu juga sebaliknya, upaya memaksimalkan kunjungan dari Malaysia beberapa acara digelar dalam bentuk seminar dan sharing pengelolaan lembaga yatim. Misalnya ketika Malaysia berkunjung ke Jakarta, Himmatun Ayat berusaha mengumpulkan para pengelola yatim di Jakarta dan sekitarnya untuk diajak sharing dengan Malaysia. Dalam beberapa moment antara tahun 2005 hingga 2010 tersebut muncullah ide untuk mengembangkan kerjasama antar lembaga yatim di wilayah ASEAN. Sehingga PEYATIM terus marathon untuk mengunjungi lembaga-lembaga yatim yang ada di Singapura, Thailand, Kamboja hingga Filipina.

Di rasa ikatan kerjasama dan perwakilan beberapa Negara ASEAN sudah mencukupi , di akhir 2010 tepatnya pada 11 Desember kerjasama itu di deklarasikan dengan nama Forum Pengurus Yatim ASEAN. Deklarasi yang dihadiri oleh perwakilan pengurus yatim dari 6 negara tersebut dibuka dan diresmikan mantan Perdana Menteri Malaysia , Mahathir Muhammad. Dari Indonesia diwakili 4 lembaga yaitu Himmatun Ayat Surabaya yang diwakili Mochammad Kholiq & Budi Hartoyo, Pesantren Yatim Assyafiiyah Jakarta diwakili Prof. Tuti Alawiyah & Dr.Khoyron Arif dll , Muhammadiyah di wakili M. Ihsan dkk, serta rumah barkat Aceh. Delegasi dari singapura dari Jamiyah Singapore dan Darul Ihsan Orphanage. Dari Thailand hadir pengurus yatim dari kawasan Pattani, Narathiwat hingga Yala. Dari Kamboja hadir CMCA (Cambodian Moslem Children Asociation) dan Rumah Yatim kampung Chnang serta dari Filipina hadir Dar amanah Filipina. Sebagai tuan rumah PEYATIM menghadirkan perwakilan masing-masing zona yang ada di Malaysia semenanjung hingga Zona Sabah Serawak. Deklarasi yang juga merupakan Musyawarah pertama kali forum yatim ASEAN tersebut memutuskan Prof. Dr. Dato Tengku Mahmod bin Mansor (Presiden PEYATIM) sebagai Ketua Forum Pengurus Yatim ASEAN dan sekretariat forum di Kualalumpur. Selain itu membahas beberapa hal dasar terkait organisasi dan pola komunikasi. Di antaranya rencana kegiatan musyawarah rutin setahun sekali dan MTQ Yatim ASEAN 2 tahun sekali.

Setelah Deklarasi tahun 2010 berbagai kegiatan digelar. Diantaranya kegiatan MTQ yatim ASEAN dan musyawarah pengurus tahun 2012 di Malaysia, dalam event tersebut Indonesia berhasil meraih juara II. Di tahun 2012 juga forum Yatim ASEAN mendorong dibentuknya FKPAIS (Forum Kerasama Panti Asuhan Islam) di Surabaya. Selain kegiatan tersebut beberapa kegiatan insidentil juga dilakukan dalam bentuk kunjungan dan pemberian bantuan dari PEYATIM untuk anak-anak yatim di Negara-negara muslim minoritas semisal di Thailand, Kamboca dan Filipina. Juga support kegiatan penanganan anak-anak yatim dan telantar Indonesia di Johor Malaysia. Serta Beasiswa kuliah bagi anak-anak yatim di kampus yatim UCB Terengganu, Malaysia.

Bulan Agustus tahun 2016 menjadi momentum untuk meningkatkan layanan program. Dalam agenda Musyawarah Yatim ASEAN sekaligus MTQ Yatim ASEAN di Surabaya tersebut dicetuskan satu program besar untuk membuat universitas Yatim ASEAN di Surabaya. Ide besar yang direkam dan disebarkan oleh banyak media ini pun segera ditindak lanjuti dengan musyawarah khusus pembentukan universitas Yatim ASEAN di Kualalumpur pada Oktober 2016. Diantara keputusannya adalah membuat suatu yayasan untuk menaungi kampus tersebut, karena forum Yatim ASEAN secara hukum Indonesia belum diakui legalitas formalnya. Sehingga pada 21 Desember 2016 dibentuklah Yawatim ASEAN (Yayasan Wakaf Anak Yatim dan Miskin) dengan melibatkan berbagai kalangan di antaranya Prof. Djoko Agus Purwanto dari Unair, Prof. Ali Azis dari UINSA, KH. Hasib Wahab dari Ponpes Tambak Beras, Kyai Syaifuddin dari Dewan Masjid Indonesia, dr. Sukoco, Mochammad Kholiq, Ahmad Bahruddin serta para aktifis panti asuhan sebagai pengurus.

Upaya awal yang dilakukan team Surabaya adalah mencari lokasi lahan tempat rencana didirikannya kampus Yatim ASEAN. Pencarian informasi dan survey lahan dilakukan berkali-kali, setidaknya di 6 tempat. Di antaranya di daerah Balongpanggang Gresik, Dawar Mojokerto, Porong Sidoarjo , Ngoro Mojokerto, Bareng Jombang, Wonosalam Jombang . Liku –liku perjalanan dilakukan team hampir setahun yang berakhir dengan tangan hampa. Perjalanan yang tidak hanya berhadapan dengan jalan terjal, namun juga dengan jalan penuh persimpangan menelusuri pemilik lahan hingga berhadapan dengan para makelar tanah. Semuanya dilakukan dengan sabar dalam menghadapai kegagalan.

Hingga sekitar bulan September 2017 ada kabar tentang seseorang yang ingin wakaf tanah untuk rencana kampus yatim ASEAN di Pekan Baru, Riau. Informasi yang datang dari Gus Bashor (pengurus Himmatun Ayat Jombang sekaligus aktif di IPI (Ikatan Pesantren Indonesia)) tersebut disampaikan kepada ketua Yawatim , Mochammad Kholiq. Sebagai sekretaris Yawatim saya turut mendampingi survey lahan pertama kali ke Pekan Baru, juga yang tak kalah berlikunya dengan yang telah di alami di Surabaya. Awal Oktober team Surabaya dan Malaysia datang di Pekan Baru, team yang masih buta medan karena memang belum pernah datang ke kota minyak itu. Dari Bandara team langsung meluncur ke panti asuhan Ar-rohim di kawasan garuda sakti untuk mencari-cari informasi. Setelah menyampaikan sedikit bantuan, sekaligus mendapatkan informasi terkait orang yang mau wakaf lahan tersebut akhirnya kami kembali diantar taksi untuk mencari penginapan. Dapatlah tempat sederhana dengan harga 190 000/ malam. Setelah istirahat sejenak agenda hari pertama dilanjutkan pertemuan singkat dengan H. Marhalim, yang menurut informasi sebagai pemilik tanah yang akan diwakafkan.

Hari kedua dilanjutkan dengan survey lokasi tanah di kawasan kilometer 12 arah Kampar bersama presiden PEYATIM, Dato Tengku Mahmod Manshor. Melihat lokasi yang sudah terisi perkebunan karet dan sawit tersebut, team begitu optimis. Ditambah lagi struktur tanah biasa (bukan gambut) dan datar. Hari ketiga dilanjutkan dengan pertemuan untuk deal teknis wakaf bersama keluarga Marhalim, yang mendatangkan juga kyai Abdul Wahid sebagai sesepuh. Dari pertemuan inilah terjadi beberapa pembicaraan terkait pengajuan syarat-syarat dari wakif yang berakhir dengan hasil yang masih mengambang, yang intinya akan dibicarkan lebih lanjut dengan pihak keluarga.

Dengan keputusan yang masih mengambang tersebut, team pulang ke Surabaya dan Malaysia. Namun demikian team menugaskan Ahmad Chudori, salah satu relawan untuk mencari informasi terkait kevalidan data tanah serta pemiliknya. Lama tak terdengar kabar, hingga satu bulan kemudian baru dapat informasi bahwa pemilik tanah yang sebenarnya bukanlah H. Marhalim, namun keluarga H. Hasymi. Tanggal 6 November team kembali ke Pekan Baru untuk bertemu dengan H. Hasymi pemilik tanah sebenarnya. Untuk datang kali kedua ini team sudah mulai terbiasa dengan situasi dan datang dengan lebih hati-hati dalam menghadapi orang. Untuk tempat mukim kami tinggal di salah satu kamar di kantor Ahmad Chudori. Alhamdulillah agenda berjalan sesuai yang direncanakan. Team dapat berkunjung ke rumah tinggal H. Hasyimi. Dengan cara seperti itu team lebih dapat menjalin hubungan kedekatan dan silaturohmi dengan keluarga yang ternyata salah satunya adalah dr. Ridho yang aktif di kegiatan keagamaan juga. Agenda lain pada kunjungan kedua di Pekan Baru November itu team juga silaturohim ke Dasren, ketua forum LKSA (Lembaga Kesejahteraan Sosial anak ) Pekan Baru. Tidak cukup di situ team juga dapat kenalan baru seorang tokoh lembaga adat melayu Riau, H. Darmadi. Sebagai tokoh masyarakat dengan jaringan yang luas, ia juga menawarkan beberapa tanah adat agar dapat dimanfaatkan untuk yatim ASEAN. Sebagai upaya meyakinkan team Malaysia, Ia juga menyerahkan secara simbolis sebagian ruang rumahnya untuk dijadikan kantor. Dikunjungan kedua ini team semakin dapat banyak gambaran, namun sekali lagi semua belum memberikan kepastian.

Tanggal 9 Desember 2017 team kembali mengadakan survey tanah ke Riau. Di kunjungan ke tiga ini team lebih fokus kepada rencana survey tanah yang telah diinfokan H. Darmadi di kawasan Bengkalis, sekaligus survey tanah milik H. Parto, rekanan yang lain di Dumai. Mengingat jarak tempuh yang cukup jauh antara Pekan Baru dengan lokasi survey, team berangkat pagi-pagi. Menyusuri rute arah Sungai Pakning, sesaat keluar kota Pekan Baru team disuguhi jalanan berliku di antara perbukitan kebun sawit. Setelah melewati kawasan Siak yang terkenal dengan istana bersejarahnya itu, banyak melewati jalan datar dengan suguhan kawasan pertanian padi dan sesekali berjumpa dengan pompa tua penyedot minyak peninggalan Chevron. Menjelang tengah hari kami sampai di kawasan sungai Pakning. Namun jalan masuk menuju lokasi tanah yang mau di survey rusak dan team harus menerima kenyataan memandang dari jarak jauh saja. Perjalanan berikutnya team menuju arah Dumai untuk survey tanah milik H. Parto. Tanah lahan gambut yang berjarak lebih kurang 1 km dari jalan raya menuju pelabuhan Pelintung tersebut sudah ditanami nanas yang kondisinya kurang terawat. Sambil mengamati kondisi tanah dan kawasan sekitar, team melepas lelah digubug tua di pinggir kebun.

Menjelang sore kami segera bergegas mencari tempat penginapan di Dumai. Kesulitan mendapatkan penginapan hingga harus menunggu agak malam karena barengan dengan agenda MTQ propinsi Riau. Keesokan harinya team kembali ke lapangan survey tanah di kawasan Bukit Batu yang menurut H. Darmadi di situlah tanah adat yang luasnya ratusan hektar itu berada. Setelah menyusuri gang demi gang dapatlah perkiraan lokasi itu. Lagi-lagi team tidak dapat sampai ke lokasi. Hingga akhirnya pagi itu team harus berpisah, satu team kembali ke Pekan Baru , sebagian masih tetap tinggal di Dumai untuk menelusuri informasi tanah tersebut. Dari hasil penelusuran tanah ratusan hektar yang sudah puluhan tahun tidak diurusi lembaga adat tersebut kini sudah menjadi tanah garapan orang. Yang intinya akan kesulitan untuk alih kelola digunakan lahan kampus. Team yang ada pun segera kembali ke Dumai untuk menunggu satu agenda yang direncanakan malam hari ba’da Isya, yaitu bertemu dengan H. Parto pemilik lahan di kawasan Pelintung.

Malamnya team datang ke rumah Beliau, ternyata sudah banyak tamu yang silaturohim. Tidak heran, selain tokoh masyarakat mbah Parto ini juga dikenal sebagai orang yang jiwa sosialnya tinggi. Salah satunya dia menyediakan ambulan dan kain kafan bagi masyarakat Dumai dan sekitarnya secara gratis. Pembicaraan mengalir malam itu menghasilkan satu titik temu yang pada intinya mbah Parto siap mewakafkan tanah 5 hektar dengan beberapa ketentuan, di antaranya digunakan untuk pesantren.

Hari sudah larut malam , team segera kembali ke penginapan. Esok harinya, sebelum subuh team Indonesia sudah perjalanan darat lagi meluncur ke Pekan Baru untuk bertemu lagi dengan team Malaysia. Jam 10 an pagi , team bertemu sekaligus mengajak H. Hasyimi turut serta berembug mengenai beberapa pilihan dan perkembangan informasi terbaru. Begitulah, siang itu juga setelah team musyawarah dengan berbagai pilihan yang ada, memutuskan untuk kembali fokus ke tanah milik H. Hasyimi dengan berbagai konsekwensi yang ada. Setidaknya keputusan bulat itu dapat menjadi titik terang dan oleh-oleh pulang team Malaysia dan Surabaya. 

Meskipun titik terang itu sudah ada bukan berarti team sudah dapat berfikir tenang , karena konsekwensi dan pengurusan tanah seluas kurang lebih 100 hektar itu perlu proses panjang.

Sebulan kemudian, 10 Januari 2018 team Surabaya datang lagi ke Pekan Baru untuk urusan notaris dan mendampingi floating BPN. Sekaligus melihat kondisi terkini lahan yang terletak di jalan Riau ujung tersebut. Melihat kondisi saat ini memang masih jalan tanah dan becek, yang ketika musim hujan hanya mobil dengan 4WD saja yang dapat melaluinya. Namun 5 sampai 10 tahun ke depan posisisi tanah ini akan cukup strategis karena tidak jauh dari kota. Hanya berjarak 8 km saja dari jalan raya Lintas Timur Sumatra, 10 KM dari Novotel Pekan Baru. Dalam survey ke empat selama tiga hari di Pekan Baru ternyata tidak cukup juga untuk menyelesaikan agenda notaris. Tanda tangan notaris baru dapat dilakukan sehari setelah agenda musyawarah forum pengurus Yatim ASEAN tanggal 5 Februari 2018 kemarin (berita selengkapanya dapat dibaca pada rubrik laporan utama edisi Maret ini).

Begitulah perjalanan panjang forum Yatim ASEAN yang ingin mewujudkan program jangka panjang berupa pendirian kampus Yatim ASEAN. Perolehan lahan 100 hektar ini tentu masih langkah awal yang nanti juga akan dikembangkan ke wakaf produktif perkebunan dan peternakan. Jalan penuh liku yang menuntut kesabaran, pengorbanan dan kerja keras dan partisipasi saudara semua masih terbentang di depan. Selamat bergabung dengan Yawatim ASEAN !

Leave a Reply