Ponpes YAI (Yatim Indonesia) Himmatun Ayat, Datangkan Yatim Papua

Surabaya- Senin,(11/12/2017) jam 00.20 WIB Tim Penjemputan dari Sekretariat Pusat Himmatun Ayat meluncur di Pelabuhan Perak Surabaya untuk melakukan penjemputan kepada 2 anak yatim dari Papua yang akan menimbah ilmu di Ponpes YAI Himmatun Ayat Metatu Benjeng Gresik. Keesokan harinya 2 yatim Papua tersebut telah sampai di Ponpes Yatim Indonesia 1 (YAI) tepatnya di Jalan Raya Metatu 15 Benjeng Gresik. 2 anak yatim Papua tersebut bernama Rahman Babur (13) dan Raoda Kasira (11), mereka saudara sepupu sama-sama yatim dari Kelurahan Klawasi Distrik Sorong Barat Provinsi Papua Barat.

Pesantren Yatim Indonesia memiliki misi ingin membina serta menyantuni anak yatim dan anak terlantar secara intensif, berdakwah secara fokus dalam pemberdayaan anak yatim dan anak terlantar menuju kemandirian dan kesejahteraan, serta membawa dakwah yatim ke ranah ilmiah (keilmuan). Upaya (strategi) yang dilakukan KH. Abdul Kholiq untuk mewujudkan visi dan misi tersebut adalah dengan membentuk generasi Yatama (Yatim Tangguh, Alim, Mandiri dan Amanah) dengan mendidik anak-anak asuhnya agar selalu menanamkan sikap disiplin, tanggung jawab dan tidak mudah menyerah, karena dengan menanamkan ketiga sikap dan sifat tersebut adalah modal atau kunci utama menuju kesuksesan. KH. Abdul Kholiq yakin bahwa mereka adalah generasi penerus bangsa yang dapat dibanggakan. Kata KH. Abdul Kholiq, “di dunia ini tidak ada yang tidak mungkin”. Dengan kesungguhan tentunya apa yang dicita-citakan akan tercapai, tidak ada perbedaan untuk meraih kesuksesan antara anak-anak yatim, terlantar dan anak-anak yang masih mempunyai orang tua lengkap, bahkan dari keluarga kaya maupun miskin. Mereka mempunyai kesempatan yang sama untuk mendapatkan masa depan yang diinginkan, terutama untuk yatim Papua mereka juga mempunyai kesempatan yang sama.

Ketika ditanya tentang apa motivasi dari Ponpes YAI untuk mendatangkan anak-anak yatim dari Papua?, Hj. Latifah sebagai Pengasuh Ponpes menjawab, “ kita ingin membantu mencerdaskan anak bangsa, khususnya anak yatim Papua dengan menyekolahkannya mereka di tanah jawa, karena di Papua kayanya banyak anak-anak yang tidak sekolah.” Salah satu contohnya adalah Rahman Babur, meskipun usianya sudah 13 tahun, dia belum pernah mengenyam pendidikan sekolah sama sekali dan ketika dilakukan tes Calistung ( baca tulis hitung ) dia masih buta huruf.

“ Kalo yang Raoda Kasira (11 ) masih mending, dia mambawa raport kelas 2 SD tapi membaca belum lancar, Alhamdulillah hari Senin, (18/12/2017) Raoda di terima kelas 3 (tiga) di MI Roudhotul Ulum Metatu Benjeng Gresik, hari pertama masuk langsunng ikut UAS susulan. Sedangkan Rahman Babur belum bisa sekolah formal tahun ini. Ketika dikonsultasikan dengan Kepala UPT Resource Centre ( RC ) kabupaten Gresik, Rahman sekolahnya di ikutkan kejar paket A untuk sementara belajar calistung dulu di pondok lalu ketika sudah dapat ijazah SD ( lulus kejar paket A ) baru bisa sekolah formal,” ujar Hj. Latifah.

Ketika ditanya tentang kesan dalam mengasuh anak-anak yatim papua, Hj. Latifah menjawab, “mengasuh anak yatim dari luar pulau Jawa ( Papua )sangatlah menantang dan butuh kesabaran extra karena adanya perbedaan budaya dan bahasa yang kadang tidak bisa kita mengerti, “ungkap beliau. Semoga Allah selalu senantiasa memberikan kesabaran dan keteguhan kepada K.H. Kholiq Hamid beserta keluarganya dalam membina dan mendidik anak yatim di Ponpes Yatim Indonesia. Aamiin ( Arfan )

Leave a Reply