Perbaiki Kesalahan Dengan Kebaikan

Kesalahan atau kealpaan bisaterjadi kepada siapa saja, termasuk kita semua atau para pejabat. Kesalahan bisaterjadi karena melanggar norma agama dan norma Negara, oleh karena itu untuk memperbaiki kesalahan bisameminta maaf kepada pihak terkait. Kalau kesalahan atau dosa itu melanggar hukum Allah SWT, maka bisamemohon ampun kepada Allah SWT dengan cara beristighfar dan menyesali perbuatnya, yakni taubatan nasuha. Tetapi jika kesalahan itu bersifat administratife, maka bisamemohon maaf lewat tulisan kepada pihak terkait.

Nah berkenaan dengan kesalahan sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Abu Dzar Al-ghifari Ra menuturkan, suatu hari, aku berkata kepada Rasulullah SAW, “wahai rasulullah ajari aku amalan yang dapat mendekatkanku ke surga dan menjauhkanku dari api neraka. Nabi kemudian berkata, jika engkau melakukan suatu kesalahan, iringilah dengan kebaikan. Karena rasa penasaran akupun berkata, apakah perkataan kalimat tauhid “ laa ilaha illalaah” termasuk kebaikan, nabi Menjawab, ya itu termasuk sebaik-baiknya kebaikan.

Ada sebuah cerita sahabat nabi ketika sedang melaksanakan wukuf di tanah arafah. Di tangannya terdapat tujuh butir batu, ia lalu berkata kepada batu-batu yang berada dalam genggamannya. “wahai batu-batu, saksikanlah aku di sisi tuhan, bahwa aku bersaksi tiada tuhan selain Allah dan Muhammad SAW adalah rasul Allah. Setelah itu, ia tidur dan bermimpi, seolah-olah kiamat telah terjadi. Dia dihisab dan dipastikan masuk neraka. Malaikatpun bergegas mengambilnya dan hendak menceburkannya ke dalam neraka. Ketika mereka sampai di pintu neraka, tiba-tiba ada sebuah batu dari batu-batu yang dia miliki, melemparkannya dari pintu itu. Malaikat yang menjaga api neraka lalu berkumpul dan menghilangkan batu tersebut. Namun mereka tidak kuasa, lalu ia diseret ke pintu nereka lain. Tiba-tiba ada batu lain dari batu-batu yang dia miliki. Malaikatpun tidak mampu untuk mengangkat batu tersebut, sampailah malaikat ke pintu nereka paling terakhir. Dan di setiap pintu nereka terdapat batu dari batu-batu yang dimili oleh sahabat nabi tersebut. Kemudian para malaikat menggiring sahabat nabi tersebut ke bawah arsy, serasa para malaikat berkata kepada Allah SWT.

“ Tuhan, engkau tahu urusan laki-laki ini, dan kami tidak menemukan satu jalanpun untuk dia untuk dimasukkan ke dalam api neraka,”ucap malaikat mengadu kepada Allah SWT. Seraya Allah SWT berfirman” wahai hambaku, engkau telah menjadikan batu-batu itu sebagai saksi dan mereka tidak menyia-nyiakan hakmu. Lalu bagaimana Aku menyia-nyiakan hakmu, sementara aku adalah saksi atas persaksianmu. Masuklah engkau ke dalam surgaku,”
Kemudian ketika laki-laki tersebut berjalan menuju surga, tiba-tiba pintu surga tertutup untuk pria tersebut, maka datang persaksian kalimat tauhid “laa ilahaa illalaaaah”, maka semua pintu surga terbuka dan laki-laki itupun masuk surga dengan bahagia.

Dari cerita tersebut dapat diambil hikmahnya, jika kita melakukan kesalahan atau dosa cepatlah memperbaiki diri dengan memperbanyak berbuat baik, maka kesalahan itu akan termaafkan. Jika kesalahan itu kepada manusia, maka meminta maaf kepada sesama mahluk, jika kesalahan itu dilakukan terhadap Allah SWT, maka memperbanyak istighfar kepada Allah. Allah menurunkan wahyu kepada nabi Musa As seraya berfirman “ wahai Musa, berdirilah! Tanamlah sebuah pohon, Musa pun menanam dan menyiraminya. Beberapa waktu kemudian, ia memanen dan menebangnya. Melihat perilaku Musa, Allah menegurnya. “ Apa yang engkau perbuat terhadap tanamanmu” wahai Musa! Musa menjawab, aku mencabutnya, Allahpun berkata, apakah engkau akan meninggalkannya sedikit di sana? Musa menjawab “ wahai tuhanku aku tidak meninggalkan (membiarkan) kecuali yang tidak baik. Allah berfirman “ Wahai Musa, Aku memasukan orang ke dalam api neraka karena orang tersebut tidak mempunyai kebaikan.

“siapa dia wahai Allah? Tanya Musa kepada tuhannya, Allah berfirman” orang yang tidak mau bersaksi laa ilaha illalaah, Muhammad rasulullah SAW.

Leave a Reply