Pendidikan & Pengasuhan Anak Yatim Dalam al-Quran

Melanjutkan tulisan iftitah edisi sebelumnya, secara ringkas program apa yang sebaiknya harus diberikan kepada anak-anak yatim, sebagai orang muslim kita sudah diberi gambaran dengan jelas dalam al-Quran. Apapun program yang kita lakukan hakikatnya yang utama adalah dalam rangka menunaikan hak-hak anak yatim. Selebihnya merupakan program tambahan sebagai efek atau konsekwensi dari program yang utama. Diantara hak-hak tersebut  adalah : pertama, hak perlindungan diri dan harta anak yatim;  kedua, hak pendidikan dan pengashan anak yatim; ketiga hak nafkah dan pemberdayaan anak yatim. Dalam kesempatan ini kita akan membahas tentang pendidikan dan pengasuhan yatim dalam al-Quran.

Dalam hal ini dasar yang dijadikan acuan dalam menjalankan kewajiban terbaik terhadap anak yatim adalah merujuk sebagaimana yang terjadi pada diri Rosululloh Muhammad SAW. Sebab Beliaulah anak yatim yang terbaik disepanjang sejarah peradaban manusia. Sehingga dari aspek sejarah dengan mempelajari perjalanan hidup Beliau, cukuplah menjadi acuan terbaik. Sebagaimana manusia biasa Rosululloh juga pernah mengalami kesedihan yang luar biasa. Salah satunya yang digambarkan dalam surat adh-Dhuha. Setelah wahyu terhenti beberapa lama , yang membuat Rasulullah gelisah menunggu, hingga timbul perasaan bahwa Allah telah meninggalkan dan membenci dirinya. Dan Rasulullah juga mendapat tekanan moral dari beberapa orang kafir, sebagaimana sebab turunya surat adh-dhuha.

Menurut al-Wahidi, sabab nuzul dari surat adh-dhuha ini diantaranya seorang perempuan Quraysh berkata kepada Nabi SAW : Hai Muhammad saya tidak melihat shaytanmu kecuali telah meninggalkanmu, maka Allah menurunkan surat Adh-Dhuha. Dari jalur lain juga di ririwayatkan Ibn ‘Abbar berkata Rasulullah bersabda: saya bertanya pada Tuhanku tentang sesuatu yang belum pernah aku tanya sebelumnya, saya berkata: Wahai Tuhanku, sesungguhnya sebelumku ada beberapa nabi yang mampu mengarahkan angin, diantaranya Sulaiman bin Dawud, dan diantara mereka juga ada yang mampu menghidupkan orang mati, di antaranya Isa bin Maryam dan diantara mereka dan diantara mereka. Kemudian Muhammad berkata: Allah berfirman: “ Bukankah aku mendapatkanmu sebagai anak yatim lalu aku melindungimu?,Muhamad berkata: benar ya Tuhan ku. Dan Allah berfirman bukankah aku mendapatimu dalam keadaan sesat kemudian aku beri petunjuk?. Muhammad berkata: benar ya Tuhanku.

Turunnya ayat tersebut, menegaskan bahwa Allah tetap sayang memelihara dan melindungi Rasulullah, Dia tidak meninggalkannya dan tidak membencinnya. Ayat “ alam yajidka yatiman faa’wa” (Bukankah Aku dapati Engkau (Muhammad) sebagai seorang yatim lalu aku melindungimu) menegaskan kepada Muhammad bahwa Allah mengingatkan kepadanya betapa dulu Dia sangat memperhatikanya sebelum kenabian. Yang pada masa itu ia adalah seorang anak yatim yang sangat mendambakan belaian kasih sayang dan perlindungan. Begitu juga setelah mendapatkan perlindungan, Rosululloh juga mendapatkan hidayah (petunjuk) yang menyelamatkan Beliau dan seluruh umat manusia dari kesesatan, sebagaimana  firman Alloh.”Wawajadaka dhol-lan fa hada” ( Dan Aku dapati Engkau (Muhammad) tersesat lalu Aku memberimu petunjuk).

Menurut Al-Maraghi, bahwa ketika Muhammad adalah seorang anak yatim , yang tidak mempunyai bapak yang memperhatikan  pendidikannya, kebutuhan hidupnya , dan Allah senantiasa menjaga dan memeliharanya dari kehinaan dan bahayanya kehidupan orang-orang jahiliyah hingga sampai usia dewasa dan bahkan hingga masa kenabian.

Pada periode Madinah, Al-Qur’an turun dengan ayat-ayatnya untuk memberikan berbagai jawaban terhadap persoalan-persoalan sekitar anak yatim dan memelihara diri dan hartanya. Ketika ayat turun “yas’aluunaka anil yatama”, Allah berfirman kepada Muhammad, “Katakanlah(qul) ” , mendidik dan membimbing serta membina moral anak yatim kepada hal yang semestinya bagi mereka adalah kewajiban bagi setiap anggota masyrakat Islam.(al-Farmawy). Sebagaimana yang dijelaskan dalam  firman Allah surat al-Baqarah: 220. “Dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakanlah : mengurus urusan mereka secara patut adalah yang terbaik ; dan apabila kamu bergaul dengan mereka, mereka adalah saudaramu. Allah mengetahui siapa yang berbuat kerusakan dan siapa yang berbuat baik (mengadakan perbaikan). Jika Allah mau niscaya ia dapat mendatangkan kesulitan kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”        Diantara sebab turunya ayat ini adalah  ketika turun ayat “walaa taqrobuu maalal yatiimii illaa billatii hiya ahsan”(al-An’am: 152 dan  “innaladzina ya’kulunna amwalal yataama dzulman” (an-Nisa; 10) –mereka menyisihkan hartanya. Ketika itu banyak yang mengasuh anak yatim, mereka menyendirikan makanan anak yatim dan juga minumannya, dan mereka melebihkan makanannya dan makanannya habis atau rusak. Sampai keadaan ini menjadi parah. Lalu diantara mereka melaporkan hal ini kepada Rasulullah dan Allah menurunkan :  “ wayas aluunaka ‘anil yatamaa. qul islaahullahum khaira” (Al-baqarah:220).

Walaupun beberapa ahli tafsir menafsirkan ayat tersebut dengan pemeliharaan anak anak yatim dengan baik, dan dihubungkan dengan sebab turunnya ayat, namun diantara mereka juga menekankan bahwa ayat tersebut tidak hanya menekankan perbaikan dalam hartanya saja. Ibn Arabi mengatakan bahwa : ketika Allah mengizinkan seorang wali untuk mencampur hartanya dengan harta anak yatim, ia dianjurkan untuk menjadikannya dalam satu rumah, untuk kebaikannya, pembinaan akhlaknya dan pendidikannya, sebagaimana pembinaan terhadap anak sendiri. Ayat tersebut, ia juga menyinggung masalah perkawinan anak yatim dan yatimah. Oleh karena itu, pertumbuhan dan perkembangan anak yatim hingga usia dewasa merupakan tanggung jawab mereka baik dalam moral maupun material. Sehingga kalau ia seorang yatim telah menjadi seorang saleh dan kalau wanita menjadi shalihah, seperti mereka mendidik anak-anak mereka sendiri.

Abd Al azim ma’ani dalam ahkam min al-qur’an wa al-sunah menafsirkan ayat tersebut, bahwa ayat tersebut seruan yang  jelas agar seorang anak yatim yang hidup dilingkungan seorang wali, hendaknya ia hidup bahagia sebagaimana kebahagiaaan anak-anaknya. Dan seorang wali berkewajiban untuk mendidiknya, membina moralnya, dan menumbuhkembangkan hartanya. Dan menurut al-Jassas, bahwa “al-islah” mempunyai makna yang umum, yaitu: pengelolaan harta dengan baik, mengawinkan, mendidik, meluruskan dan mengarahkan ke jalan baik dan benar. Dan kata-kata tersebut dalam ayat ini dengan jelas menunjukkan maksud mendidik dan mengarahkan ke jalan yang benar.

Sedangkan menurut al-Baydhawi, bahwa makna “islah” mengarahkan ke jalan yang benar dan mengelola harta miliknya agar berkembang dan tidak rusak akan lebih baik. Pembinaan moral dan pendidikan anak-anak yatim penting, dan merupakan permasalahan yang harus mendapatkan perhatian serius dari umat Islam, sehingga tidak mendapatkan unsur-unsur yang tidak mendatangkan malapetaka ditubuh umat akibat dari dekadensi moral generasi muda putra-putrinya. Mengurus dan memperhatikan anak yatim juga memperhatikan pembangunan umat, dan ketidakpeduliaan terhadap mereka berarti membuka pintu masuknya kejahatan yang dapat menodai dan merusak citra dan kehormatan umat Islam.

Ayat lain terkait pendidikan dan pembinaan anak yatim ada pada surat an-Nisa  ayat 6, Wabtalul yataama hattaa idzaa balaghun-nikah….wakafaa billaahi hasiibaa. Artinya “Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (memelihara harta) maka serahkanlah kepada mereka harta mereka. Dan janganlah kamu tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. Barang siapa (diantara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri, dan barang siapa yang miskin, maka bolehlah ia memakan harta itu menurut yang patut. Kemudian apabila kamu menyerahkannya kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi kepada mereka. Dan cukuplah Allah sebagai pengawas (atas persaksian itu)”.

Dari  beberapa penjelasan diatas secara umum pendidikan dan pengasuhan anak yatim dapat dipandang dari beberapa sudut. Diantaranya dari segi tujuan pengasuhan anak yatim dimaksudkan untuk memperbaiki kehidupan mereka baik dari segi moral maupun material. Dari segi waktu, pengasuhan anak yatim merupakan proses yang dilakukan terus menerus. Kita dianjurkan mengujinya secara bertahap sampai dia dewasa (siap menikah). Disinilah diperlukan modal utama yaitu kesabaran para pengasuh. Dari segi cara, pengasuhan anak yatim sebaiknya menggunakan pendekatan keluarga. Seorang pengasuh harus dapat memperlakukan anak yatim sebagaimana anaknya sendiri karena kebutuhan utama mereka adalah kasih sayang. Sebagaimana layaknya keluarga, sebaiknya ada figure Ayah dan Ibu yang intens mendampingi.

Sehingga cara pengasuhan anak yatim yang ideal adalah dengan memasukkan mereka dikeluarga-keluarga muslim yang taat dan mampu mengasuh dari hubungan kekerabatan terdekat. Jika tidak memungkinkan , barulah dimasukkan asrama dengan model pendekatan pengasuhan berbasis keluarga yang penuh kasih sayang dan kebaikan didalamnya. Sebagaimana yang diriwayatkan  Abu Hurairah  dari Nabi saw  berkata: Sebaik-baik rumah di lingkungan orang-orang muslim adalah rumah yang didalamnya terdapat anak yatim yang diperlakukan dengan baik, dan sejelek-jelek rumah di lingkungan orang muslim adalah rumah yang didalamnya terdapat anak yatim yang diperlakukan dengan tidak baik. Kemudian berkata dengan mengangkat tangannya “ saya dan memelihara anak yatim di dalam surga seperti ini”.

Leave a Reply