Nasihat Luqman Al Hakim

Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu
dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.”
(QS. at-Tahrim: 6)

Kepribadian seorang anak sangat ditentukan oleh pola asuh orang tuanya. Ibu dan ayah ibarat nahkoda yang akan mengarungi bahtera lautan yang luas. Andai si nahkoda ini tidak menyetir dengan hati-hati, besar kemungkinan kapal akan karam dan tidak sampai ke tujuan. Perlakuan orang tua sangat penting membentuk pribadi anak, apakah menjadi saleh-salehah atau sebaliknya. Selanjutnya adalah lingkungan di sekitar keluarga. Kawan-kawan sekolah, teman-teman sepermainan, dan lingkungan warga berpotensi besar membentuk karakter anak di kemudian hari. Anak yang suka bergaul dengan kawannya yang pemalas, suka berbuat onar, suka berkata kotor, bisa dipastikan kelak ia menjadi pribadi yang berperangai kurang biak. Sebaliknya, anak-anak yang bergaul dengan kawan-kawan yang memiliki karakter bagus; taat beribadah, gemar menuntut ilmu, berjiwa sosial, kelak ia akan memliki perangai yang bagus pula.

Dengan kata lain, jika anak kelak menjadi pribadi saleh dan bermanfaat bagi umat, atau menjadi generasi yang berkarakter negatif, lihatlah orang tuanya dan dengan siapa ia banyak bergaul. Sebagai orang tua, sepatutnya kita belajar keteladanan dari orang-rang saleh yang selalu melakukan kontrol kuat kepada putra-putrinya. Bahkan Rasulullah saw memperbolehkan memukul (dengan sayang) jika anak usia 10 tahun tidak mau menjalankan shalat. “Perintahlah anak-anakmu mengerjakan shalat ketika berusia tujuh tahun, dan pukullah mereka karena meninggalkan shalat bila berumur sepuluh tahun, dan pisahlah tempat tidur mereka (laki-laki dan perempuan).” (HR Abu Dawud).

Di lain waktu Rasululah saw juga mengajarkan untuk makan dengan tangan kanan dan membaca basmalah. Dari Abu Hafs Umar bin Abu Salamah Abdullah, anak tiri Rasulullah saw ia berkata, “Ketika saya masih kecil, saya berada dalam asuhan Rasulullah saw dan saya sering berganti-ganti tangan untuk mengambil makanan di piring, kemudian Rasulullah saw bersabda kepada saya,“Hai anak, sebutlah nama Allah Ta’ala dan makanlah dengan tangan kananmu (dan makanlah dari makanan yang terdekat).” Seperti itulah cara makan saya setelah itu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Orang tua yang selalu kontrol dan membekali anaknya pendidikan yang benar bukan berarti bersikap jahat. Tapi mereka ingin agar putra-putrinya kelak menjadi orang ‘baik-baik’. Jangan sampai anak meninggalkan shalat dibiarkan saja. Tidak membaca al-Qur’an, tidak masalah. Tidak puasa Ramadhan diperbolehkan.Sikap permisif orangtua semacam ini kelak akan membekas dan menggambarkan betapa kehidupan beribadah tidak lagi penting. Jika seorang anak menganggap ibadah tidak penting—padahal tujuan diciptakan manusia adalah beribadah—tidak perlu heran jika ia kelak hidup semaunya. Bukan tidak mungkin ia akan mudah melanggar larangan Allah dan mengabaikan perintah-perintahNya.

Mari belajar keteladan kepada Luqman Al-Hakim, orang tua yang saleh dan selalu menasehati putranya dengan nilai-nilai kebaikan. Beliau bukan sekedar memerintah tapi juga memberi keteladanan bagi anak-anaknya. Nasehat beliau diabadikan oleh Allah dalam Al-Quran Al-Karim. dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya,”Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam Keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Luqman berkata). Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha mengetahui.Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu Termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS. Luqman: 13-19)

“Anak yang menjadi pribadi saleh dan bermanfaat bagi umat, atau bahkan menjadi generasi yang berkarakter negatif, lihatlah orang tuanya dan dengan siapa ia bergaul ”

Leave a Reply