Mendidik Anak Yatim Hingga Siap Menikah

QS. An-Nisa’ : 6

Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. Dan janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum meraka dewasa. Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barang siapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. Kemudian apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. Dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas kesaksian itu).” (Qs. An-Nisaa’ [4]: 6)

Takwil firman Allah: 

 (Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin).

Abu Ja’far berkata: Maknanya adalah, “Juga ujilah pemahaman logika anak-anak yatim kalian, kebaikan mereka dalam beragama, dan kecakapan mereka dalam mengurus harta mereka.”

Riwayat-riwayat yang sesuai dengan makna tersebut adalah:

  1. Al Hasan bin Yahya menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdurrazzaq mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ma’mar mengabarkan kepada kami dari Qatadah dan Al Hasan, tentang firman Allah,   “Dan ujilah anak yatim (itu)’.”_191
  2. Muhammad bin Al Husain menceritakan kepada kami, ia berkata: Ahmad bin Mufadhdhal menceritakan kepada kami, ia berkata: Asbath menceritakan kepada kami dari As-Suddi, bahwa firman Allah, ibtalu al yataama (ujilah oleh kalian anak-anak yatim), (maknanya adalah) ujilah oleh kalian akal mereka._192
  3. Muhammad bin Amr menceritakan kepadaku, ia berkata: Abu Ashim menceritakan kepada kami, ia berkata: Isa menceritakan kepada kami dari Ibnu Abi Najih, dari Mujahid, tentang firman Allah,  “Dan ujilah anak yatim,” ia berkata, “Maknanya adalah akal mereka.”_193
  4. Al Mutsanna menceritakan kepadaku dia berkata: Abdullah bin Shalih menceritakan kepada kami, ia berkata: Mu’awiyah bin Shalih menceritakan kepadaku dari Ali bin Thalhah, dari Ibnu Abbas, tentang firman Allah,  “Dan ujilah anak yatim,” ia berkata, “Ujilah mereka.”_194
  5. Yunus menceritakan kepadaku, ia berkata: Ibnu Wahb mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ibnu Zaid berbicara tentang firman Allah,  “Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin,” ia berkata, “(Maknanya adalah), ujilah oleh kalian pendapat dan logika anak yatim itu, dan tentang bagaimana dirinya. Jika seseorang mengetahui bahwa anak yatim itu telah cerdas (pandai dalam mengelola harta), maka dia harus memberikan harta anak yatim itu kepadanya. Itu terjadi setelah anak yatim tersebut bermimpi (baligh).”_195

Abu Ja’far berkata: Tadi kami telah menjelaskan bahwa makna kata al ibtilaa’ adalah al iktibaar (ujian), maka kata ini tidak perlu dibahas lagi. Adapun firman Allah,  “Sampai mereka cukup umur untuk kawin,” maknanya adalah, sampai mereka bermimpi (baligh).

Riwayat-riwayat yang sesuai dengan makna tersebut adalah:

  1. Muhammad bin Amr menceritakan kepadaku, ia berkata: Abu Ashim menceritakan kepada kami dari Isa, dari Ibnu Abi Najih, dari Mujahid, tentang firman Allah, “Sampai mereka cukup umur untuk kawin,” ia berkata, “[Maknanya adalah, sampai bermimpi (baligh).”_196
  2. Muhammad menceritakan kepada kami, ia berkata: Ahmad menceritakan kepada kami, ia berkata: Ashbath menceritakan kepada kami dari As-Suddi, tentang firman Allah,  Sampai mereka cukup umur untuk kawin,”]_197 (bahwa maknanya adalah) sampai mereka bermimpi._198
  3. Ali bin Daud menceritakan kepadaku, ia berkata: Abdullah bin Shalih menceritakan kepada kami, ia berkata: Mu’awiyah menceritakan kepdaku dari Ali bin Thalhah, dari Ibnu Abbas, tentang firman Allah,  Sampai mereka cukup umur untuk kawin,” ia berkata, “Maknanya adalah, ketika (mereka sudah) bermimpi [baligh].”_199
  4. Yunus menceritakan kepadaku, ia berkata: Ibnu Wahb mengabarkan kepada kami, ia berkata: Ibnu Zaid berkata, tentang firman Allah,    Sampai mereka cukup umur untuk kawin,” “Maknanya adalah, sudah bermimpi (baligh).”_200 (Bersambung)

 

 

191_ Abdurrazzaq dalam Tafsir (1/433).

192_ Ibnu Abi Hatim dalam Tafsir (3/865) dan Ibnu Jauzi dalam Zad al Masir (2/14).

193_ Ibid

194_ Ibnu Jauzi dalam Zad al Masir (2/14).

195_ Al Baghawi dalam Ma’alim At-Tanzil (2/10).

196_ Al Mawardi dalam An-Nukat wa Al ‘Uyun (1/452).

197_ Kalimat yang terdapat dalam tanda [ ] tidak tertera dalam manuskrip. Kami mencantumkan kalimat tersebut dengan merujuk pada salinan manuskrip yang lain.

198_ Ibnu Abi Hatim dalam Tafsir (3/864) dan Al Qurthubi dalam Al Jami’li Ahkam Al Qur’an (5/34).

199_ Ibnu Abi Hatim dalam Tafsir (3/865).

200_ Al Mawardi dalam An-Nukat wa Al ‘Uyun (1/453).

Leave a Reply