Keutamaan Surga

Dari Anas bin Malik ra. dari Nabi SAW beliau bersabda:

“Sungguh satu keberangkatan pada waktu sore atau pagi dalam jihad fi sabilillah adalah lebih baik daripada dunia dan seisinya. Satu ujung busur panah seseorang dari kalian dalam Surga atau satu tempat dari cambuknya adalah lebih baik daripada dunia dan seisinya. Sekiranya wanita penghuni Surga mengintip penduduk bumi niscaya menerangi antara langit dan bumi. Juga memenuhi bumi dengan parfumnya. Sungguh kerudung wanita Surga pada kepalanya, lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (Sahih Al-Bukhari, no. 2796)

Pembaca majalah bilyatimi yang dilindungi Allah SWT…
Hadis ini secara umum menjelaskan tentang keutamaan Surga atas dunia. Banyak dari kita mengaku beriman, mempercayai Surga dan Neraka, tetapi kepercayaan ini masih ngambang.
Bukannya iman kepada Surga menjadikan kita semakin sungguh-sungguh mengerjakan amal shalih, tapi sebaliknya banyak dari kita yang lebih mengutamakan dunia atas beramal untuk Surga.
Hadis ini menunjukkan kepada kita beberapa pelajaran, di antaranya:
Pertama: Bagian terkecil dari Surga tidak ada apa-apanya dibandingkan kenikmatan dunia yang terbesar sekalipun. Karena itu muslim yang tidak mempunyai banyak bagian dari dunia, jangan minder dan kecewa kepada Allah SWT.

Jangan pernah terbersit ucapan buruk dalam kalbunya, seperti mengatakan: “Saya sudah mengerjakan shalat lima waktu, tapi masih segini rizqi saya. Sementara orang kafir yang tidak pernah taat kepada Allah dan senantiasa mengerjakan dosa, diberi nikmat yang sangat besar.”
Ingatlah, Nabi SAW mengatakan:
“Sekiranya dunia di sisi Allah sebanding dengan sayap nyamuk, Allah tidak akan memberi minum orang kafir meski seteguk air.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 2320)
Ini menunjukkan dunia sama sekali tidak ada harganya di mata Allah. Silakan orang-orang kafir menikmati dunia sepuasnya. Sebab di Akhirat mereka tidak memiliki bagian sedikit pun. Tentang hal ini Allah menjelaskan:

“Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang beriman dan mengerjakan amal saleh ke dalam Surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dan orang-orang kafir itu bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang. Dan Neraka adalah tempat tinggal mereka.” (QS. Muhammad: 12)
Kedua: Keutamaan jihad fi sabilillah. Sesungguhnya jihad memiliki pahala sangat besar. Hingga Nabi SAW menyatakan, sekedar berangkat jihad pada waktu pagi atau sore adalah lebih baik daripada dunia dan seisinya. Dalam Hadis lain beliau berkata:

“Allah menjamin bagi siapa pun yang keluar berjihad fi sabilillah, Allah berfirman: Yang tidak keluar kecuali karena iman kepadaKu (Allah) dan membenarkan para rasulKu, Aku menjamin untuk mengembalikannya dengan mendapat pahala, harta rampasan, atau Kumasukkan Surga. Nabi SAW melanjutkan: Sekiranya tidak memberatkan umatku, niscaya saya tidak duduk di belakang pasukan. Sungguh saya sangat berharap terbunuh dalam jihad fi sabilillah, kemudian hidup lagi, kemudian terbunuh, kemudian hidup lagi, dan kemudian terbunuh lagi.” (Sahih Al-Bukhari, no. 36)
Ketiga: Hadis ini memerintahkan kita bersungguh-sungguh beramal untuk meraih Surga. Sebab Surga adalah kampung kenikmatan dan balasan yang diberikan Allah kepada hamba dari sedikit amal, sangat besar dan berlipat-lipat. Jangan sampai seorang muslim lebih fokus beramal untuk dunia dan lupa beramal untuk Akhirat.
Beramal shalih untuk meraih Surga, bukannya tidak ikhlas. Jika seseorang dari kita melakukan amal shalih dengan tujuan mendapat Surga, itu adalah ikhlas dan bukan sebaliknya. Justru Rasulullah SAW sendiri yang mengajarkan Rabi’ah bin Ka’ab r.a. untuk memperbanyak shalat agar menjadi pendamping beliau dalam Surga. Hadisnya sebagai berikut.
Dari Rabi’ah bin Kaab Al-Aslami r.a berkata:

Saya biasa bermalam bersama Rasulullah SAW dan mendatangkan air wudhu serta kebutuhan beliau. Kemudian beliau berkata padaku: “Mintalah.” Saya menjawab: “Saya meminta untuk mendampingi Anda di Surga.” Beliau menjawab: “Apakah itu saja?” Saya menjawab: “Itu saja.” Beliau pun bersabda: “Kalau begitu bantulah saya mendapat cita-citamu dengan memperbanyak sujud (shalat).” (Sahih Muslim, no. 1122)

Pada Hadis ini Nabi SAW memerintahkan Rabi’ah r.a memperbanyak sujud (shalat) agar bisa menjadi pendamping beliau dalam Surga. Apakah berarti Rasulullah SAW mengajarkan Rabi’ah untuk tidak ikhlas ketika mengerjakan banyak shalat?! Tentu tidak!!

Keempat: Hadis ini menjelaskan tentang keutamaan wanita penghuni Surga baik dari kalangan bidadari maupun wanita dunia yang menjadi penghuni Surga. Sesungguhnya wanita Surga sangat bercahaya, hingga sekiranya mengintip penduduk bumi dari atas -dan ini menunjukkan bahwa Surga ada di atas-, niscaya cahaya dirinya menyinari dunia sepanjang masa.

Juga menunjukkan, wanita Surga sangat harum aromanya. Dan wanita dunia, ketika masuk Surga, akan hilang darinya segala keburukan dan perkara-perkara tidak mengenakkan yang biasa menimpa wanita dunia, seperti haidh, kencing, keringat, dan lain sebagainya.

Kelima: Hadis ini memerintahkan kita untuk bersabar dalam menghadapi dunia. Baik atas kemiskinan, kedzaliman manusia, penyakit dan lain sebagainya. Karena semua itu pasti dibalasi Allah dalam Surga.
Orang tertimpa kemiskinan di dunia, itu tidak akan selamanya. Sebagaimana orang kaya dan biasa hidup mewah, juga tidak akan selamanya demikian. Karena semuanya adalah fana mengikuti fananya dunia. Sementara orang beriman dan cerdas lebih mengutamakan apa yang dijanjikan Allah di Akhirat. Nabi SAW bersabda:
((الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ)).
“Orang cerdas adalah yang senantiasa menghitung dirinya dan bekerja untuk kehidupan setelah mati. Sementara orang lemah, senantiasa mengikuti hawa nafsu dan bisanya hanya berangan-angan kepada Allah.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 2459)
Wallahu ta’ala a’lam.

Leave a Reply