Dari Arab Mengakar ke Jepang

Jalan ceritaku ke Saudi Arab berimbas ke sebuah negara maju dengan teknologinya yang super duper serta kedisiplinan masyarakatnya yang amat tertib. Tiga minggu setelah kepulangan dari negeri kurma, kini ku dihadirkan ke sebuah negeri sakura dengan perjuangan yang tak kalah berdarahnya dari sebelumnya. Perjuanganku berawal dari sebuah mimpi besar Asrama RK2.8 Bandung yang bertuliskan kata “prabu goes to japan”.

Sebagai penanggung jawab keuangan asrama aku tak mau diam melihat kawan-kawan mempersiapkan mimpi bersama pergi ke Jepang. Aku mencoba berfikir dan sedikit mencoba mengide. Dan akhirnya aku mendapatkan sebuah rencana untuk membantu mewujudkan ‘prabu goas to japan’ melalui kantin halal yang aku masukkan dalam program kerja keuangan asrama. Hasilnya cukup lumayan dengan modal kas asrama yang terbatas.

Setelah kepulanganku dari Saudi Arab aku tak ada lagi uang buat kemana-mana, apalagi ke luar negeri. Namun aku merasa ingin dan harus pergi ke Jepang bersama kawan-kawan seperjuangan. Aku yakin banyak orang baik di sekelilingku. Akhirnya aku dipinjami kawan sekamar untuk beli tiket kepulangan (Tokyo-Jakarta) karena sedang ada promo. Waktu keberangkatan hampir tiba dan kondisi keuanganku belum berubah. Aku tak habis pikir bagaimana caranya agar aku bisa membeli tiket keberangkatan. Aku mencoba konsultasi ke Eksekutif Regional (ER) berharap ada solusi. Eksekutif Regional memberikan tawaran kepadaku, bila aku yakin bisa mengembalikan maka aku dipinjami uang buat pergi ke Jepang. Kalo tidak yakin pergi maka urungkanlah niat baik itu.

Aku sudah sholat tengah malam, sudah minta restu orang tua, dan sudah memikirkan rencana. Aku yakin aku pasti bisa mengembalikannya. Terbelilah tiket pp Jepang. Aku merasa aman karena tiket sudah terbeli. H-5 keberangkatan aku baru sadar masih ada yang belum terselesaikan. Visa, ya aku belum membuat visa. Karena statusku sebagai mahasiswa S1 maka ada keringanan biaya 500.000 dari 655.000 untuk pembuatan. Tinggal 150.000 yang harus aku siapkan. Aku masih belum ada uang untuk itu. Pada akhirnya terpaksa ku meminta ke kakak agar dipinjami uang. Karena aku tau kondisi kakak seperti apa, jadi aku berniat untuk mengembalikannya. Esok hari ku mendapatkan uang dari kakak sejumlah 200.000 untuk pembuatan visa. Selang beberapa waktu aku terisak tangis apa yang harus aku lakukan dengan uang 200.000 itu. Uang itu cukup untuk membuat visa, namun posisi ku ada di Bandung bukan di Jakarta. Takut, sedih, pusing yang ku alami. Bagaimana tidak? Baru kali ini aku meminta tolong (baca: meminjam uang) ke banyak orang dalam satu kegiatan. Aku tidak putus berfikir dan terus mencoba. Yang terakhir ini aku mencoba berbicara ke ER agar bisa membantu. Di bantulah aku sehingga aku bisa berangkat ke Jakarta. Pagi setelah sholat shubuh aku bersiap ke stasiun Bandung. Aku berangkat pukul 07.30 dan sampai di Jakarta pukul 10.15 dengan kondisi kehausan. Aku membeli minum di stasiun. Harganya lumayan melangit dibandingkan biasanya kubeli di kampus atau di rumah.

Mendengar cerita temen-temenku yang membuat visa Jepang, banyak yang tidak lolos berkas dan disuruh pulang untuk memperbaiki kesalahan berkas padahal sudah sampai di kantor visa. Hal itu membuatku was-was dan tak henti berdoa. Aku tak ada waktu lagi bila harus balik ke Bandung tanpa bukti pembuatan visa selesai. Selain tidak ada dana lagi waktu keberangkatan sudah mendesak.
Tibalah aku di kantor visa dan mulai mengambil nomor antrian. Aku dipanggil dan berkas-berkasku di seleksi satu demi satu. Pada lembar itinerary dan form pendaftaran aku tercyduk. Ada kesalahan di sana. Aku lemas melihatnya. Petugas memintaku mengeluarkan surat keterangan mahasiswa aktif. Kuberikan padanya dan petugas banyak menanyakan tentang kampusku. Tak hanya itu bahkan banyak menanyakan tentang fakultas dan civitas akademika Universitas Padjadjaran. Aku lolos berkas. Entah kenapa kesalahan-kesalahanku bisa diperbaiki di tempat tanpa harus balik ke Bandung. Inilah pertolongan Allah dimulai. Petugas tersebut ternyata alumni kampusku dan satu fakultas denganku. Bedanya dia sastra jepang sedang aku sastra arab. Hmm…

Selesai sudah pembuatan visaku. Aku kembali ke stasiun untuk pulang ke Bandung. Aku baru sadar setelah sampai di stasiun ketika mau membeli tiket pulang. Uangku tak cukup. Uangku yang dipinjami buat ke Jakarta ternyata kurang buat pulang karena aku sudah membelikan minum sebagian. Aku terdiam dan pasrah. Aku malu akan diriku sendiri. Kemana lagi aku harus meminta bantuan. Ku sudah banyak merepotkan orang. Sudah banyak pinjamanku. Sudah lelah aku dikelabuhi oleh banyang-bayang hutang yang entah dari mana nanti aku bisa mengembalikan. Selain aku tak lagi berani bilang siapa-siapa, baterai handphone ku juga sudah tinggal 2% akan off. Dan akhirnya handphone ku switch off.

Dari siang sampai malam aku terdiam tanpa arah. Aku hanya bisa melihat orang lalu lalang di stasiun Gambir, Jakarta. Tepat pukul 22.00 WIB di depan tempat dudukku ada seorang laki-laki yang mencharge handphone dan kuberanikan diri meminjam charger nya sejenak untuk mengisi baterai handphone ku. Sampai 14% aku kembalikan dan aku nyalakan handphone ku. Setelah menyalah tiba tiba aku mendapatkan chat dari Kemenpora (Kementerian Pemuda dan Olahraga). Chat tersebut bertuliskan ‘Kang, saya tunggu besok jam 10.00 untuk presentasi di kantor Kemenpora Jakarta’.
Aku tak tau apa rencana Allah buatku. Saat ini aku baru bisa berfikir bahwa aku tidak diperbolehkan pulang ke Bandung karena aku harus presentasi di Kemenpora esok hari. Masih ada sisa baterai untuk aku bisa menghubungi Yayasan Himmatun Ayat Jakarta agar aku dijemput dan bisa menginap di sana. Aku bersyukur masih bisa terjalin hubungan dengan Himmatun Ayat. Dan berharap tak akan berpisah walau jarak membatasi kita.

Esok hari aku presentasi di kantor Kemenpora. Dihadiri oleh 16 staff dan 1 kepala bidang IPTEK dan IMTEK Kemenpora. Alhamdulillah lancar dengan lebih dari 18 pertanyaan yang bisa kita jawab. Saat itu hari Jum’at. Setelah presentasi kita di ajak sholat jum’at dan makan siang bersama sambil sharing tentang penelitian kita yang di Saudi Arab. Jadi, kita di undang presentasi di Kemenpora karena kita pernah mengajukan proposal untuk penelitian kita.

Tak lama kemudian kita pamit pulang, karena kita masih banyak agenda yang harus diselesaikan. Apalagi aku yang harus mempersiapkan buat ke Jepang. Sebelum kita menginggalkan kantor Kemenpora. Kita di suruh datang ke sebuah ruangan. Kita diminta tanda tangan di lembaran kertas. Kertas itu berisikan surat perjanjian bahwa kita harus melaksanakan dan merealisasikan penelitian tersebut.

Di sini akhir dari hutang-hutangku. Di ruang itu kita diberikan dana yang tak sedikit jumlahnya. Bahkan baru pertama kali aku memegang uang sebanyak itu secara cash. Aku gemetar, terseduh dan berbanyak terima kasih kepada Kemenpora atas dukungan penelitian kita.
Aku bisa pulang ke Bandung, bisa makan sedikit enak, bisa membayar hutang-hutangku hari itu juga dan bisa berangkat ke Jepang dengan senyuman lebar serta yang aku sangat bersyukurnya aku masih bisa membuka usaha dari bantuan Kemenpora.

Sesampai di Jepang aku masih berfikir kemerin aku tidak bisa pulang ke Bandung karena tidak ada uang buat beli tiket kereta. Kini ku sudah merasakan dinginnya Jepang. Apa yang terjadi? Semua itu karena Allah. Allah akan membantu kita bila kita saling membantu sesama. Terima kasih Prabu Bandung, engkau telah memberikanku kesempatan untuk berbuat baik dan tolong menolong. (Ishaq)

Leave a Reply