Alternatif Sistem Pendidikan yang Menghebatkan

Bagi setiap orang tua sangat berharap anakya akan meraih kesuksesan dalam masa depanya, sehingga para orang tua berlomba-lomba untuk menyekolahkan anaknya di sekolah yang terbaik dan mahal, seolah-olah sekolah adalah pintu utama menuju masa depan lebih baik bagi anaknya, dan itu sepenuhnya tidak salah. Memang pendidikan adalah pintu kesuksesan, tetapi kita lupa satu hal bahwa pendidikan tidak sepenuhnya terdapat di sekolah, tetapi pendidikan sejatinya ada dalam sepanjang waktu kehidupan manusia. Maka tidak salah apabila Rasullulah Nabi Muhammad SAW menganjurkan kepada umatnya untuk belajar mencari ilmu dari buaian ibu hingga liang lahat kubur.

Perlu bagi setiap orang tua untuk memahami, yaitu pada dasarnya dalam proses belajar pastinya di dalamnya terdapat pendidikan, tetapi dalam pendidikan belum tentu dalam proses belajar. Begitu juga sekolah, dalam sekolah belum tentu anak dalam proses belajar, tetapi hanya sekedar aktifitas rutin dalam formalitas jenjang pendidikan, maka tidak salah apabila yang terjadi banyak anak-anak sekolah terkesan biasa-biasa saja, tidak menunjukan potensi dirinya yang menonjol, walaupun mereka sudah menempuh proses pendidikan selama 14 tahun, yaitu dari TK hingga SMA. Pastinya itu bukan waktu singkat bagi seseorang dalam proses pendidikan, seharusnya dengan apa yang mereka lalui dalam pendidikan seharusnya mereka menjadi orang-orang yang berkualitas dan produktif. Tetapi pada kenyataannya sebagian besar dari mereka dengan ijazah SMA seolah-olah tidak mempunyai kompetensi apa-apa sebagai SDM yang berkualitas dan produktif, tetapi hanya sekedar pencari pekerja dengan mengharap belas kasih untuk diterima sebagai buruh, atau karyawan rendahan.

Menurut teori psikologi belajar menyakini bahwa setiap perilaku belajar akan menghasilkan perubahan tingkah laku atau membagun tingka laku yang permanen. Oleh karena itu tidak salah apabila kita menuntut lebih dari proses pendidikan di sekolah lebih dari apa yang dihasilkan sekarang, dimana kenyataannya tidak semua peserta didik menjadi orang yang hebat dan sukses dalam hidupnya setelah melalui proses yang panjang dalam kurikulum pendidikan yang diberikan mulai dari TK hingga SMA. Seharusnya setiap proses pendidikan yang dilalui bisa memberikan jaminan 100% untuk menjadi orang yang hebat dan sukses.

Bisa jadi kondisi tersebut karena setiap proses belajar yang dilalui tidak berorentasi pada diri tetapi hanya sekedar untuk memenuhi tuntutan sistem pendidikan, dimana peserta didik dituntut untuk mempelajari dan mendapatkan nilai terbaik pada tiap mata pelajaran yang dibebankan dalam kurikulum sekolah, tanpa melihat sejatinya kebutuhan anak, sehingga pencapaian anak dalam proses belajarnya hanya sekedar angka-angka nilai, sementara potensi dirinya masih dalam pertanyaan besar. Menurut psikologi Humanistik bahwa setiap manusia mempunyai kebutuhan aktualisasi diri atau wujudkan potensi diri dari apa yang diinginkan dalam hidupnya. Maka seharusnya anak sebelum belajar banyak hal, maka seharusnya anak dipastikan menemukan tujuan hidupnya, mereka mau menjadi apa atau menjadi seperti apa, dan setelah anak menemukan dan memastikan dirinya atas apa yang diinginkan, maka nampaklah sejatinya kebutuhan belajar dalam proses pendidikan yang berorentasi diri anak, dan itulah sejatinya kurikulum yang anak butuhkan dalam sistem pendidikannya, bukan kurikulum yang sudah distandarisasi dari atas untuk diterapkan pada semua peserta didik, padahal faktanya setiap anak tidak sama, mereka anak-anak yang istimewa dengan potensinya masing-masing.

Mungkin ini alternatife bagi para orang tua semua, seandainya proses pendidikan dibangun dari orentasi anak, kurikulum yang dibuat berdasarkan kebutuhan belajar anak masing-masing dalam membangun masa depanya, sehingga bisa jadi dari masing-masing anak mempunyai kurikulum dan pendekatan pola belajar yang berbeda-beda, sesuai dengan kebutuhan dalam menunjang anak untuk mewujudkan apa yang dicita-citakan dalam satu bidang atau prosesi, sehingga pada satu titik dimana anak menjadi seorang yang sangat ahli dalam bidangnya. Dengan pola tersebut pendidikan tidak lagi berorentasi pada pencapain nilai-nilai angka, tetapi lebih pada kompetensi anak. Dan yang harus dibangun dalam kompetensi anak yaitu kompetensi dasar dan spesifik sesuai bidangnya masing-masing. Kompetensi dasar terdiri (1) bahasa, (2) matematika, (3) ilmu logika atau penalaran, (4) agama, (5) enterpreneur dan (6) pengetahuan serta keterampilan kaitannya dengan spesifik bidang yang ditekuni.

Dengan pola pendidikan tersebut menjadi lebih fokus dalam membangun kompetensi anak, karena sejak dini anak sudah dipersiapkan untuk menjadi seorang ahli dalam bidangnya masing-masing, sesuai dengan minat dan bakatnya, selebihnya kita sebagai orang tua bertawakkal dalam doa atas kesuksesan anak-anak kita. Itulah wacana sudut pandang yang berbeda dalam memberikan pendidikan pada anak-anak kita. Semoga memperkaya wacana kita dalam memperjuangkan masa depan anak kita.

Leave a Reply