Kado Terindah di Akhir Tahun 2017

Akhir tahun 2017 ini menjadi momentum yang penuh kejutan untukku. Di mulai dari evaluasi diri terhadap prestasi dan kontribusi selama mengenyam title mahasiswa. Terkadang bayangan pemuda dengan pakaian khas koko birunya berjalan menghampiriku. Ia adalah ayahku, inspirasiku dalam setiap kaki melangkah. Ayahku telah meninggal saatku masih kelas lima (5) SD. Dari sini aku mulai menjadi yatim dan dibawa kakak ipar ke kota Surabaya agar melanjutkan pendidikanku. Yayasan Himmatun ayat adalah salah satu tempat dimana aku ditempa menjadi pribadi yang berbudi pekerti, mandi dan berprestasi. Tahun 2014 aku diterima di sebuah PTN di kota Bandung Jawa Barat. Dengan segala keterbatasanku aku mencoba bertahan di kota kembang untuk tetap menjaga mimpi-mimpiku dan bisa membanggakan keluarga.

Tepat pada bulan Oktober 2017 aku mencari kompetisi yang bisa diikuti. Dengan hal itu aku bisa merasakan kebahagiaan orangtua atas capaian yang sudah aku berikan padanya. Aku yang masih belum bisa mandiri dalam finansial, hanya capaian-capaian prestasi yang bisa aku hadiahkan pada orangtua. Dua hari setelahnya aku mendapatkan info terkait kompetisi karya tulis ilmiah internasional yang diselenggarakan di Dubai, Uni Emirat Arab. Aku ditemani dua kawanku Rangga dan Tanty. Mulailah kita membuat timline serta mulai mengumpulkan data-data pendukung. Hingga akhirnya kita berhasil lolos seleksi dan di undang untuk presentasi karya. Bahagia tak terkira rasanya. Hingga terkadang air tak bisa terbendung ketika kita melihat bahwa presentasi kita dilaksanakan di Mecca, Saudi Arabia bukan di Dubai, Uni Emirat Arab.

Banyak tantangan dan ujian kita hadapi. Bagaimana tidak, presentasi dilaksanakan bulan Desember sedang kita sudah memasuki akhir bulan Oktober. Tantangan terberat adalah kita tidak memiliki uang untuk registrasi, transportasi, akomodasi hingga uang saku saja saya berfikir kemana akan mencari. Apalagi saya yang hanya seorang penerima beasiswa sebagai sumber memasukkan setiap bulannya.

Fokus kita terbagi dua, karya tulis dan biaya keberangkatan. Hampir setiap malam kita begadang untuk memperbaiki karya tulis. Kita mendapat bimbingan juga dari dosen Fisika dan Sastra Arab yang sudah expert dibidang karya tulis. Selang memperbaiki karya tulis kita juga berfokus pada proposal sebagai bahan pengajuan anggaran ke universitas dan perusahaan-perusahaan yang bisa memberikan csr. Hari mulai berganti dan pihak travel sudah meminta pelunasan untuk tiket pesawat. Kita baru mendapatkan 10jt dari total 52jt yang dibutuhkan. Namun Allah mendengar doa-doa sujudku. Allah memberikan ujian kepadaku dan Allah juga memberikan keberhasilan kepadaku. Allah telah mengatur segalanya sampai saya bisa berangkat dan melaksanakan kegiatan. Inilah kado terindah yang aku pernah rasakan di akhir tahun.

Kegiatan presentasi dilaksanakan selama 2 hari sedang waktu kita yang tersedia 9 hari di Saudi Arab. Kita mengambil langkah untuk memenuhi panggilan Allah. Kita melaksanakan umrah sebelum kegiatan presentasi dimulai.

Semua itu tak lepas dari bayangan di setiap renunganku. Bayangan itu adalah keluargaku. Sebuah keluarga yang sangat sederhana nan ramah. Selalu ramai akan keceriaan di setiap pagi membentang. Berada di sudut desa. Di situlah keluargaku menghabiskan kesenangan, kebahagiaan, dan kebersamaan untuk saling mendoakan.

Leave a Reply