Keluarga Berarah dengan Shalat Tengah

Oleh: Prof. Dr. Moh. Ali Aziz, M.Ag Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya & Penulis Buku “60 Menit Terapi Shalat Bahagia” www.terapishalatbahagia.net

“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat tengah. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyuk.” (QS. Al Baqarah [02]:238)

Pujangga Perancis, Voltaire ketika membaca Al Qur’an pertama kali mengatakan, urutan ayat-ayat Al Qur’an sangat kacau. Tetapi, setelah dipelajari secara tenang dan mendalam, ia baru menemukan pesona sistematika ayat-ayatnya. Anda bisa memahami kegalauan Voltaire tersebut jika memahami ayat di atas dalam kaitannya dengan ayat-ayat sebelum dan sesudahnya.

Ayat-ayat sebelumnya (ayat 221-237) berbicara tentang pernikahan, talak, maskawin, menyusui anak, masa tunggu (‘iddah) bagi wanita yang ditinggal mati suaminya, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan kehidupan keluarga. Dan terbanyak berbicara tentang perceraian. Tiba-tiba saja ayat ini berbicara tentang shalat, lalu ayat berikutnya (ayat 239-241) berbicara lagi tentang perceraian dan kematian.

Ahli tafsir, Sayyid Quthub dalam tafsirnya cetakan pertama mengatakan, ia belum menemukan hubungan logis antara ayat-ayat di atas. Ia lalu memohon sumbangan pikiran dari para pembaca. Tapi, pada tafsir cetakan kedua, beliau sudah menemukan jawabannya, bahwa pernikahan, hubungan seksual suami istri, urusan keturunan, perceraian, iddah, rujuk kembali setelah perceraian, kewajiban nafkah, pemberian hadiah (mut’ah) untuk istri yang ditalak, menyusui anak dan menyapihnya,

Semuanya merupakah ibadah yang terkait dengan sesama manusia. Maka shalat sebagai ibadah tertinggi dijelaskan di tengah deretan ayat-ayat tersebut untuk menggambarkan satu kesatuan ibadah antara sesama manusia dan ibadah kepada Allah. Demikianlah Al Qur’an mengaitkan segala aktivitas manusia dengan Allah walaupun sepintas terlihat aktivitas tersebut tidak berkaitan dengan ibadah (Quraish Shihab, 2012 Vol. I: 625).

Kaitan ayat-ayat tersebut bisa juga dijelaskan bahwa kehidupan rumah tangga selalu disertai aneka problem yang menggangu ketenangan hati. Seringkali masalah-masalah itu membuat anggota keluarga kehilangan kesabaran dan terpancing berucap, bersikap dan bertindak yang tidak terpuji, bahkan kadang-kadang suami istri terbawa emosi melakukan pelanggaran agama secara serius. Misalnya memukul, mengungkit-ungkit pemberian dan menyampaikan daftar kesalahan masing-masing, lalu berujung pada kata-kata yang menjurus pada perceraian. Oleh sebab itu, semua anggota keluarga harus menguatkan daya redam dan penyejuk hatinya dengan shalat khusyuk agar masing-masing pihak bisa mengendalikan diri, sehingga kapal keluarga tidak tenggelam di tengah bahtera, meskipun gelombang dan badai menerpanya.

Ayat ini berisi perintah melaksanakan shalat dengan gerakan dan bacaan yang sempurna (hafidhu) dan perintah menghadirkan hati ketika shalat (qanitin), terutama shalat tengah (wustha). Imam As Syaukani mengutip sebanyak 18 pendapat ulama yang berbeda-beda tentang makna shalat tengah. Tapi, menurut pendapat terbanyak shalat tengah adalah shalat Ashar, karena berada di antara semua urutan waktu shalat lainnya, mulai dari shubuh, dhuhur, maghrib dan Isyak.

Jika dikaitkan dengan kehidupan rumah tangga, maka shalat ashar amat menentukan keharmonisan atau kehancuran rumah tangga. Waktu ashar sampai maghrib adalah waktu dimana orang sudah sangat lelah setelah bekerja seharian. Apalagi suami istri sama-sama berkarir di luar rumah atau pekerja berat. Itulah saat-saat mereka sensitif emosinya sehingga mudah tersinggung dan marah. Mereka sama-sama meminta perhatian di saat mereka sama-sama dalam kelelahan fisik dan mental. Perhatikan firman Allah, ..“..dan (peliharalah) shalat tengah. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu´.”  Pada saat itulah mulut harus diberi cahaya ketuhanan dengan berwudlu dan bacaan-bacaan mulia selama shalat agar tidak mengeluarkan perkataan yang menyesakkan dada anggota keluarga. Pikiran dan hati harus dijernihkan dengan rukuk dan sujud panjang dan khusyuk agar dapat berfikir positif dan kuat untuk mengendalikan diri.

Sebagian ulama mengartikan shalat tengah dengan shalat subuh, sebab ia berada di antara shalat maghrib, isya’, dhuhur dan ashar. Shalat maghrib disebut shalat pertama sebab maghrib adalah awal hari dalam hitungan tahun Islam. Budaya Jawa juga menghitung malam sebagai awal hari. Jika shalat shubuh dipandang shalat tengah yang harus diperhatikan di tengah pembicaraan masalah-masalah rumah tangga, maka shubuh adalah waktu di mana fisik dan pikiran orang sangat fresh setelah istirahat semalam dan shalat berjamaah. Itulah saatnya masing-masing pihak dalam rumah tangga saling introspeksi, saling mengalah dan saling memaafkan, dan itulah kunci utama untuk menjaga keutuhan dan kebahagiaan rumah tangga.

Jika shalat tengah adalah shalat ashar dan shubuh, sebagaimana pendapat Al ‘Allamah Ibnu Abi Jamrah dalam kitabnya Bahjah Al Nufus (Juz I: 203), maka hadis qudsi berikut ini semakin menyemangati kita untuk lebih memperhatikan kekhusyukan kedua shalat tersebut.

“Rasulullah SAW bersabda, para malaikat penjaga malam dan penjaga siang silih berganti mengawasi kalian. Mereka berkumpul pada saat shalat subuh dan shalat ashar. Lalu para malaikat yang mengawasi kalian sepanjang malam naik ke langit. Allah bertanya kepada mereka, dan Allah sebenarnya lebih mengetahuinya, “Bagaimana kalian meninggalkan hamba-hamba-Ku? Mereka menjawab, “Kami meninggalkan mereka dalam keadaan sedang shalat dan kami mendatangi mereka juga dalam keadaan shalat.” (HR. Al Bukhari dari Abu Hurairah r.a)

Malaikat yang disebut dalam hadis di atas adalah malaikat yang secara khusus mengawasi shalat manusia selain Malaikat Raqib dan Atid yang bertugas mencatat perbuatan manusia secara keseluruhan. Mereka terbagi menjadi dua kelompok yaitu pengawas siang dan kelompok pengawas malam. Dua kelompok itu berkumpul setiap ashar dan shubuh, waktu pergantian jadwal pengawasan. Mereka menjadi saksi atas kesungguhan shalat setiap orang khususnya shalat ashar dan shubuh. Persiapan shalat, menunggu shalat berjamaah, dzikir dan bincang-bincang santai untuk menyegarkan suasana keluarga, saling memberi kritik usai shalat ashar dan shubuh termasuk dalam kategori shalat yang dilaporkan oleh malaikat itu.

Jika kedua shalat itu dijalankan dengan benar, maka semua malaikat akan menjadi saksi keimanan Anda. Jangan lupa, setelah persaksian itu, malaikat juga memintakan ampunan dan rahmat Allah untuk Anda. Wahai saudaraku yang sedang dirundung masalah dalam rumah tangga, mulai sekarang kendalikan pikiran, mulut dan tangan Anda dari hal-hal yang semakin menambah runyamnya masalah, khususnya pada senja menjelang maghrib. Lakukan shalat shubuh berjamaah dengan istri, suami dan anak-anak. Rukuk dan sujudlah yang lama untuk meminta ampunan dan petunjuk Allah, lalu saling berpeluklah sambil meminta maaf dan berjanji untuk memperbaiki diri. Apa yang Anda lakukan akan terekam dalam kamera para malaikat, lalu mereka mendoakan Anda. Cahaya shubuh adalah cahaya persaksian. Allah SWT berfirman, “Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sungguh shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)” (QS. Al Isra’ [17]:78). Sambutlah terbitnya fajar dan matahari dengan terbitnya harapan baru rumah tangga Anda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *