Optimis Hadapi Ujian Nasional Online

Surabaya  Pada awal bulan April ini siswa tingkat Sekolah Menengah Pertama akan mengikuti Ujian Nasional. Agenda tahunan sekolah ini kerap menjadi momok menakutkan bagi para siswa dan guru serta orang tua murid. Bukan apa, yang namanya ujian sudah pasti menjadi momen penentu nasib bagi mereka. Sehingga banyak siswa yang kemudian merasa tertekan ketika menjelang masa-masa ini. Untuk penjadwalan, sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, penyelenggaraan tingkat Sekolah Menengah Atas sederajat akan digelar pada tanggal 13-16 April dan tingkat Sekolah Menengah Pertama sederajat pada tanggal 9-12 Mei 2016. Sementara untuk siswa-siswi MTs Plus Himmatun Ayat Surabaya, karena belum adanya ruang laboratorium komputer beserta perangkatnya yang bisa mendukung untuk dilaksanakan UN Nasional secara mandiri, maka pelaksanaan Ujian Nasional Online dilangsungkan di SMK Negeri 2 Jln. Patua Surabaya.

Terlepas dari masih kontroversialnya UN, saat ini pemerintah mencoba menelurkan sebuah uji coba sistem UN berbasis komputer (Computer Based test) atau lazim disebut UN Online. Sehingga, akan ada dua bentuk UN yang akan diselenggarakan pada kali ini. Satu yang berbasis kertas (Paper Based Test) atau UN pola lama dan yang keduanya adalah UN online. Bagi Indonesia, UN berbasis komputer pada tahun ini adalah kali pertama penyelenggaraannya. Sebab itu, dari 18.552 SMA/MA, 10.362 SMK dan 50.515 SMP yang akan menyelenggarakan UN, hanya beberapa saja yang menggunakan sistem ini.

 

Bagaimana Kesiapan?

Ujian berbasis komputer, harus diakui memang menjadi terobosan baru di dunia pendidikan Indonesia. Sistem ini bahkan diklaim mampu menghemat anggaran negara hingga 50 persen dari total anggaran yang telah disiapkan sebesar Rp580 miliar. Sebab, dalam ujian ini pencetakan naskah soal dan lembar jawaban hingga biaya pengawasan distribusi soal sudah tidak ada lagi. Semua berbasis digital. Tinggal lagi koneksi jaringan internet dan listrik, wajib menjadi pendukung sistem ini.

Tahun ini saja, demi memenuhi kebutuhan naskah bagi 3,77 juta siswa SMP, 1,63 juta siswa SMA, 1,17 juta siswa SMK dan 632,2 ribu peserta ujian kesetaraan, pemerintah wajib menyediakan sedikitnya 35 juta lembar naskah. Pemerintah menyebutkan, jika tahun ini pihaknya optimistis capaian ujicoba UN online akan memberikan hasil positif bagi dunia pendidikan di Indonesia. Dari 585 sekolah yang sudah dinyatakan siap, pemerintah menaruh harapan banyak. Sebab hasil lulusan UN online nanti akan menjadi indikator capaian untuk keberlanjutan sistem UN online di Indonesia pada masa mendatang.

Sekolah yang dinyatakan siap melaksanakan UN online adalah sekolah yang memiliki komputer dengan rasio 1 komputer untuk tiga peserta ujian. Kemudian, jaringan internet di sekolah tersebut harus lancar, tidak boleh terhambat apa pun. Jika jaringan internet lambat, maka akan mempengaruhi pengerjaan soal. Terpisah, Kepala Sekolah MTs Plus Himmatun Ayat Danar Setiyawati,S.Pd, juga mengaku optimistis UN online tidak akan menemui kendala. Seluruh siswanya bahkan telah terbiasa dengan menggunakan metode ini. “Karena sebelumnya para siswa juga sudah dilatih, baik di rumah atau di sekolah, jadi kami rasa tidak akan ada kendala lagi. Mudah-mudahan lancar pas UN nantinya,” ujar beliau.

 

Apa Saja Manfaat UN Online?

Penerapan sistem ujian berbasis komputer, sejauh ini memang baru uji coba di Indonesia. Jumlah pesertanya pun belum begitu banyak. Meski begitu, sistem ini diyakini paling efektif dan efisien dari seluruh sistem penyelenggaraan UN yang pernah diselenggarakan di Indonesia. “UN online akan jauh lebih efektif ketimbang dengan menggunakan kertas. Dengan ujian komputer juga ada penghematan waktu 30 menit dari waktu selama ini dua jam,” ujar M. Mukhlisin, M.Pd Ketua Divisi Pendidikan Formal Yayasan Himmatun Ayat.

Berikut sejumlah manfaat yang didapat dengan menggunakan sistem UN online:

1.   Hemat Waktu

Pola UN online memang efektif dalam menghemat waktu. Jika selama ini sekali penyelesaian soal, siswa membutuhkan waktu selama dua jam. Maka dengan online, penyelesaiannya cukup membutuhkan waktu 1,5 jam. Dengan UN online, siswa tak perlu lagi menanti pembagian soal, pengisian lembar komputer yang merepotkan dengan pensil khusus dan lain sebagainya.

2.  Pengurangan Kertas

Tahun ini, pemerintah akan mencetak sedikitnya 35 juta lembar naskah untuk penyelenggaraan UN di tingkat SMA dan SMP sederajat di Indonesia. Setidaknya, saat ini dengan 585 sekolah se Indonesia yang menjadi peserta uji coba UN online, maka penggunaan kertas sudah bisa dihemat. Jumlah ini akan lebih banyak lagi, bila seluruh sekolah mulai menerapkannya.

3. Menekan Praktik Calo

Sistem UN online juga diyakini akan menekan praktik percaloan soal seperti yang selalu terjadi selama beberapa tahun ke belakang. Praktik calo bisa ditekan. Jadi peluang orang untuk membocorkan soal bisa diminimalisir.

4.  Tekan Risiko Kesalahan

Soal berbasis komputer, juga dipastikan akan memudahkan saat adanya kemungkinan kesalahan soal. Perubahan pun bisa dilakukan dengan gampang dan cepat. UN online juga bisa mengantisipasi kebocoran soal. Misalnya, sebelum ujian diketahui ada kebocoran, maka tinggal diganti dengan soal lain.

5.  Uji Kejujuran

Pola soal berbasis komputer juga sangat membantu melihat kejujuran dari seorang siswa. Sehingga, dapat diukur dengan baik tingkat kemampuan siswa. Bukan seperti pola UN yang menggunakan kertas. Peluang kecurangan sangat besar. Sehingga tingkat kejujuran siswa juga sulit diukur dengan murni. Tingkat kejujuran siswa dalam menjalankan ujian pun juga bisa diuji.

6.   Hemat Anggaran Negara

Sistem UN online, diklaim mampu menghemat anggaran negara hingga 50 persen. Penghematan ini didapat dari penghilangan biaya pencetakan naskah soal dan lembar jawaban hingga biaya pengawasan distribusi.  Karena semua serba digital, maka ongkos penyelenggaraan UN pun dapat dipangkas sedemikian rupa.

7.   Soal Lebih Mudah Dikerjakan

Dari pengakuan sejumlah siswa yang telah melakukan simulasi UN online, mereka mengaku cukup terbantu dengan adanya sistem ini. Seperti diakui Dwi Puji Raharjo, siswa kelas IX MTs Plus Himmatun Ayat Surabaya. “Awalnya saya sedikit bingung, tapi lama-lama jadi terbiasa. Jadinya asik, karena UN dengan komputer ini lebih ringan tidak perlu menghitamkan buletan lagi yang sangat menyita waktu.” (Arfan )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *